Soeharto: Saya tidak Ingin Pertahankan Kekuasaan dengan Senjata
Malam itu, Wiranto berbincang dengan Presiden Soeharto. Dia menyampaikan sikap ABRI atas desakan mahasiswa dan DPR yang meminta Soeharto mundur.
Menteri Pertahanan yang juga Panglima ABRI Jenderal Wiranto menghadap Presiden Soeharto, 16 Mei 1998. Malam hari, Wiranto bicara dengan Soeharto mengenai kondisi politik dan sosial di tengah gelombang aksi unjuk rasa mahasiswa menuntut reformasi.
Presiden Soeharto baru kembali dari lawatan kenegaraan ke Mesir. Sebelum bertemu Wiranto, Soeharto terlebih dulu menemui Ketua DPR Harmoko. Dalam pertemuan itu, Harmoko menyampaikan tuntutan mahasiswa kepada Soeharto.
“Bapak sebaiknya mundur atas desakan mahasiswa,” ujar Harmoko seperti ditirukan Wiranto.
Wiranto mengatakan, terjadi tawar menawar antara DPR dengan ABRI. Wiranto memahami, DPR tidak punya wewenang untuk meminta presiden mundur. Sebab, presiden diangkat dan diberhentikan oleh MPR. Sehingga, yang bisa memberhentikan presiden adalah MPR.
“Dengan mencabut mandat kepada presiden,” kata Wiranto dalam Youtube yang disiarkan TNI AD.
Malam itu, Wiranto berbincang dengan Presiden Soeharto. Dia menyampaikan sikap ABRI atas desakan mahasiswa dan DPR yang meminta Soeharto mundur.
“ABRI bersikap akan pertahankan pemerintahan yang sah. ABRI tidak akan pertahankan pemerintahan apabila MPR mencabut mandat,” ucap Wiranto pada Soeharto.
Tapi Wiranto jujur bicara pada Soeharto.
“Namun kalau berkepanjangan, maka korban akan berjatuhan dan lebih banyak,” kata Wiranto.
Mendengar itu, Soeharto langsung menjawab.
“Saya tidak ingin rakyat jadi korban,” singkat Soeharto.
Soeharto melanjutkan pembicaraan dengan Wiranto. Sang Jenderal mulai menunjukkan tanda-tanda akan melepaskan jabatannya sebagai presiden.
”Saya tidak akan pertahankan kekuasaan dengan alat senjata,” kata Soeharto.
Telepon dari Cendana
Empat hari berselang, tepatnya 20 Mei 2025, Menteri Pertahanan/Panglima ABRI Wiranto mendadak mendapat telepon dari Soeharto. Perintahnya singkat, segera ke Cendana. Padahal malam itu Wiranto menggelar sebuah rapat y di Gedung Urip Sumohardjo, di kompleks Departemen Pertahanan dan Keamanan yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Dalam buku “Dari Gestapu ke Reformasi; Serangkaian Kesaksian’, Salim Said yang hadir dalam rapat menceritakan isi pembicaraan. Rapat dipimpin Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono.
“Di Merdeka Barat, menjelang tengah malam, saya mengadakan rapat staf. Berapa mahasiswa yang akan menjadi korban kalau ABRI mengambilalih kekuasaan?” tanya Wiranto seperti ditulis Salim.
SBY sempat menanyakan keputusan Panglima ABRI, apakah akan mengambil Alih kekuasaan. Jawaban Wiranto tegas.
“Tidak. Besok kita bersama-sama akan mengantarkan pergantian presiden dari Pak Harto ke Wakil Presiden Habibie lewat sebuah proses yang konstitusional.”