Pertemuan Penting di Jalan Cendana Sebelum Soeharto Mundur
Sebelum mengumumkan pengunduran diri, Soeharto ingin bertemu tokoh-tokoh masyarakat.
Senin 18 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa terus digelar di hampir seluruh kota besar di Indonesia
Pertemuan Penting di Jalan Cendana Sebelum Soeharto Mundur
Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa. Indonesia pun memasuki babak baru. Dua hari sebelum Soeharto lengser, Senin 18 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa terus digelar di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Tujuannya satu: Soeharto turun dari kursi presiden.
Di Jakarta, ratusan mahasiswa menyambangi Gedung DPR/MPR di Senayan. Mereka diterima Ketua DPR/MPR Harmoko yang lalu ikut meminta Soeharto mundur. Setelah pertemuan, puluhan mahasiswa di antaranya memutuskan menginap.
Sekitar 6 kilometer dari sana, sekitar pukul 21.00 WIB, Soeharto bertemu Nurcholish Madjid. Di rumah Jalan Cendana, Menteng, itu, Soeharto meminta Nurcholish untuk menceritakan situasi di luar.
Cendekiawan itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia mengisahkan secara rinci aksi-aksi reformasi yang diwarnai kerusuhan di Jakarta ketika Soeharto sedang di Mesir pada 11-15 Mei.
Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursyid ikut hadir dalam pertemuan. Hari ini, kata pria yang akrab dipanggil Cak Nur itu, elemen-elemen gerakan reformasi menduduki gedung DPR/MPR.Mendengar itu, Soeharto tertawa sambil mengangkat tangan.
Soeharto kemudian mengatakan akan segera mengumumkan pengunduran diri.
Namun sebelum mengumumkan pengunduran diri, Soeharto ingin bertemu tokoh-tokoh masyarakat. Saadillah lalu mendaftar beberapa nama. Semua tokoh Islam. Kemudian ia memberikannya kepada Soeharto.
Nurcholish mengusulkan nama Amien Rais untuk juga diundang, tapi Soeharto bilang, "Ah, nanti dulu, deh," ujarnya.Amien Rais menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan reformasi. Kritiknya terhadap Soeharto lugas dan keras.
Keesokan harinya, dalam pertemuan sekitar 2,5 jam di Istana Merdeka, para tokoh yang diundang membeberkan situasi terakhir.
Pada pertemuan tersebut, Yusril Ihza Mahendra diajak Saadillah untuk hadir. Ia dianggap perlu dimintai pertimbangan untuk dari kacamata hukum tata negara.
Di luar Istana, demo kian masif. Ribuan mahasiswa dan kalangan pro-reformasi lainnya kembali mendatangi gedung DPR/MPR.
Mereka pun menginap di sana.