Menilik Program Makan Bergizi Gratis Era Soeharto, Harga per Porsi masih Segini, Ini Fakta-faktanya
Program makanan bergizi gratis pernah dilakukan oleh Presiden Soeharto. Saat itu bernama PMT-AS.
Program makan gratis di Indonesia telah menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi masalah gizi dan pendidikan. Program ini pernah diterapkan di era Presiden Soeharto.
Nama program kala itu dikenal dengan istilah Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) yang diluncurkan pada tahun 1991 di era Presiden Soeharto.
Sasaran dan Fokus Program
PMT-AS dirancang untuk menjangkau anak-anak sekolah dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD) di 11 provinsi, dengan fokus utama pada daerah-daerah tertinggal.
Tujuan utama dari program ini adalah untuk mengatasi masalah kekurangan gizi dan menurunkan angka putus sekolah yang tinggi di daerah tersebut.
Sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan di era Prabowo Subianto, memiliki cakupan lebih luas. MBG tidak hanya menargetkan anak-anak, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta peserta didik di semua jenjang pendidikan.
Fokus PMT-AS pada anak sekolah menunjukkan perhatian khusus terhadap generasi muda, sementara MBG berupaya untuk menciptakan kesehatan yang lebih komprehensif bagi masyarakat secara keseluruhan.
Hal ini mencerminkan pergeseran dalam pendekatan pemerintah terhadap masalah gizi dan kesehatan masyarakat.
Jenis Makanan yang Disediakan
PMT-AS menyediakan makanan tambahan yang bergizi dengan kalori dan protein tertentu, biasanya dalam bentuk makanan ringan atau snack yang memanfaatkan hasil pertanian lokal.
Program ini bertujuan untuk memberikan asupan gizi yang cukup bagi anak-anak di sekolah tanpa mengganggu proses belajar mengajar. Sedangkan, MBG berfokus lebih holistik dalam hal asupan gizi.
Program ini menawarkan makanan dengan komposisi yang lebih beragam dan bergizi, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara menyeluruh.
Pendanaan dan Anggaran
Dalam hal pendanaan, Pemerintah Presiden Soeharto kala itu memiliki anggaran yang terbatas. Soeharto menetapkan PMT-AS dengan estimasi biaya sekitar Rp 250 hingga Rp 350 per anak, tergantung pada lokasi.
Latar Belakang dan Implementasi
PMT-AS diluncurkan sebagai respons terhadap masalah kekurangan gizi yang dihadapi anak-anak sekolah di daerah tertinggal. Program ini diimplementasikan melalui sekolah-sekolah dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk guru, kepala sekolah, dan organisasi masyarakat seperti PKK dan LKD.