Orang-Orang yang Berani Minta Soeharto Mundur
Kondisi ini pada akhirnya memaksa sejumlah tokoh untuk berani bicara pada Soeharto. Keberanian untuk meminta Soeharto mundur.
Gelombang demonstrasi semakin besar pada pertengahan Mei 1998. Tuntutan mahasiswa, Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia.
Dalam sejarah panjang perjalanan republik ini. Soeharto sangat berkuasa. Menjadi Presiden selama 32 tahun. Hampir tidak ada orang yang berani mengganggu kekuasaan Soeharto. Apalagi meminta sang Jenderal besar untuk turun dari jabatannya sebagai Presiden.
Namun, kondisi Mei 1998 jauh berbeda. Gelombang tuntutan agar Soeharto mundur sangat besar. Tak terbendung lagi. Kondisi ini pada akhirnya memaksa sejumlah tokoh untuk berani bicara pada Soeharto. Keberanian untuk meminta Soeharto mundur.
Orang Kepercayaan Soeharto
Tokoh pertama adalah orang kepercayaan Soeharto yang pada saat itu menjadi Ketua MPR yaitu Harmoko. Hari itu, 16 Mei 1998. Diceritakan dalam buku "Berhentinya Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmoko”, ada tiga permintaan yang dibawa Harmoko.
Permintaan pertama, reshuffle kabinet. Soeharto menyanggupinya. Permintaan kedua, memenuhi tuntutan mahasiswa yaitu reformasi. Lagi-lagi, Soeharto menyampaikan kesanggupannya.
Permintaan ketiga yang paling penting. Tuntutan mahasiswa. Harmoko memberanikan diri bicara pada Soeharto. Harmoko bilang, rakyat meminta Soeharto mengundurkan diri dari jabatan Presiden.
Soeharto tidak langsung mengiyakan permintaan yang disampaikan itu. Tapi Harmoko menangkap pesan Soeharto. Soeharto rela mundur jika fraksi di DPR menilai Presiden sudah tidak dipercayai. Harmoko pulang membawa hasil pembicaraan.
Dua hari berselang. 18 Mei 1998 sekitar pukul 15.30 WIB. Harmoko langsung menggelar konferensi pers. Dia didampingi pimpinan dewan lainnya yaitu Ismail Hasan Metareum, Abdul Gafur, Fatimah Achmad, dan Syarwan Hamid.
Harmoko menyampaikan pidato untuk meredam tuntutan mahasiswa. Wajahnya terlihat serius. Sesekali melihat teks yang dipegangnya. Tak ada senyum yang biasa menghiasi wajah yang dikenal sebagai tangan kanan Soeharto.
“Dalam menanggapi situasi, pimpinan dewan, baik Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan demi persatuan dan kesatuan bangsa agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri,” kata Harmoko.
Tokoh Masyarakat
Dari luar lingkaran politisi dan pemerintah, muncul sosok Direktur Yayasan Paramadina Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Cak Nur salah satu tokoh yang beberapa kali bertemu Soeharto jelang lengser.
Pada 18 Mei 1998, Soeharto memanggil Cak Nur. Di rumah Jalan Cendana, Menteng, Soeharto meminta Cak Nur menceritakan situasi di luar. Dalam pembicaraan itu, Cak Nur menyinggung soal Soeharto mundur.
"Karena itu saya datang ke sini tidak dengan pertimbangan bulan atau hari, pertimbangan per jam juga tidak, malah per menit juga tidak. Saya datang ke sini dengan pertimbangan detik per detik," kata Cak Nur seperti dikutip dalam "Api Islam Nurcholish Madjid" karya Ahmad Gaus AF.
Soeharto mendengarkan dengan saksama. Lalu dia bertanya, "Reformasi itu apa, sih, Cak Nur?”
Cak Nur segera menjawab. “Reformasi itu artinya Pak Harto turun.”
Mendengar itu, Soeharto tertawa sambil mengangkat tangan.
“Saya dari dulu memang ingin turun. Tetapi soalnya adalah, oleh Harmoko dan teman-temannya di MPR, saya ini diapusi, dibohongi, bahwa rakyat masih membutuhkan saya, malah didorong-dorong, dipaksa-paksa untuk naik lagi.”
Dalam pembicaraan itu, Soeharto mengatakan akan segera mengumumkan pengunduran diri.
“Besok,” jawab Soeharto.
“Lho, kok cepat sekali?” tanya Gus Nur.
“Lho, katanya tadi hitungannya detik.," jawab Soeharto lagi.
Tak cuma sekali Cak Nur menyinggung soal Soeharto mundur. Pada 19 Mei 1998, sekitar pukul 09.00 hingga 11.32 WIB di Ruang Jepara, Istana Merdeka. Presiden Soeharto bertemu ulama dan tokoh masyarakat.
Ada Ketua Umum PBNU Abdurrachman Wahid atau Gus Dur, budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, Direktur Yayasan Paramadina Nurcholish Madjid atau Cak Nur, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ali Yafie, Prof Malik Fadjar mewakili Muhammadiyah, Guru Besar Hukum Tata Negara dari Universitas Indonesia Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi (Muslimin Indonesia), Sumarsono (Muhammadiyah), serta Achmad Bagdja dan Ma'aruf Amin dari NU.
Dari pertemuan tersebut ada tiga kompromi yang diputuskan. Pertama, Soeharto hendak membentuk Komite Reformasi. Kedua, dia akan mempercepat pemilu dan tidak bersedia dicalonkan kembali sebagai presiden. Ketiga, merombak Kabinet Pembangunan VII dan mengganti namanya dengan Kabinet Reformasi.
Awalnya, Soeharto meminta Cak Nur menjadi ketua komite yang dibentuknya. Namun Cak Nur menolak. Cak Nur justru menyarankan Soeharto mundur.
“Anda harus mengakhiri masa kepresidenan Anda dengan anggun dan terhormat, bukan dengan cara Amerika Latin. Janganlah mengulang peristiwa 1965-1966,” kata Cak Nur dikutip Greg dari Schwartz.
"Jika orang yang moderat seperti Cak Nur tak lagi mempercayai saya, maka sudah saatnya bagi saya untuk mundur," kata Soeharto kepada para undangan seperti dikutip Ahmad Gaus AF dalam Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner.
Keluarga Soeharto
Tokoh yang juga meminta Soeharto mundur juga datang dari orang terdekatnya. Yakni sang menantu, Prabowo Subianto. Dari pengakuannya, Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa dirinya pernah menyarankan Soeharto mundur dari jabatan presiden di tengah memanasnya situasi politik dan nasional tahun 1998.
"Waktu itu saya ikut menyarankan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri," ujar Prabowo saat berpidato di acara silaturahim Gerakan Elaborasi Rektor, Akademisi Alumni, dan Aktivis Kampus Indonesia di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Jumat (5/4/2019) malam.
Saat itu Prabowo dihadapkan dua pilihan. Antara membela keluarga atau setia pada bangsa dan negara. Prabowo memilih mengoreksi kepemimpinan Presiden Soeharto yang merupakan mertuanya sendiri. Prabowo menceritakan alasannya menyarankan Soeharto mundur.
”Bukan karena saya tidak loyal pada Pak Harto. Justru karena saya loyal pada Pak Soeharto, justru karena saya cinta sama Pak Harto," ucapnya.
Saat itu, Prabowo masih menduduki Pangkostrad. Prabowo diinstruksikan mengendalikan massa mahasiswa yang menuntut Soeharto mundur.
menuturkan bahwa saat ini Indonesia tengah mengalami persoalan, yakni mengalirnya kekayaan nasional ke luar negeri yang terjadi selama puluhan tahun sejak zaman Presiden Soeharto. Artinya kekayaan sumber daya alam bangsa Indonesia tidak dapat dinikmati oleh masyarakatnya sendiri secara merata.
Prabowo mengakui kondisi saat itu terjadi karena para elite gagal dalam mengelola negara, termasuk dirinya yang juga menjadi bagian dari elite.
"Kita harus akui bahwa ini kegagalan kita semua. Saya ikut karena saya bagian dari suatu rezim yang berkuasa. Saya dulu jenderal. Saya elite tentara," ucap Prabowo.