Cerita Wiranto Bertemu Soeharto: Presiden dalam Kesendirian
Demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah daerah. Rakyat yang marah mendesak adanya reformasi. Menuntut Presiden Soeharto turun 'tahta'.
Mei 1998. Sejarah mengukir peristiwa mencekam di dalam negeri. Krisis ekonomi menyebabkan dolar bertengger di 16.000.
Demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah daerah. Rakyat yang marah mendesak adanya reformasi. Menuntut Presiden Soeharto turun 'tahta'.
Tepat di tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya. Posisinya digantikan oleh Wakil Presiden BJ Habibie.
Namun, menarik garis ke belakang. Terjadi peristiwa tak kalah mencekam sesaat sebelum Presiden Soeharto mundur.
Demikian diceritakan oleh Jenderal (Purn) Wiranto. Kala itu, Wiranto menjadi komandan tertinggi ABRI atau disebut Panglima ABRI yang sekarang berganti nama menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia).
Wiranto mengenang bertemu Presiden Soeharto dalam kesendiriannya. Soeharto yang baru saja tiba dari kunjungannya di Mesir memanggil Wiranto.
"Pada saat tanggal 16 (Mei 1998) saat presiden kembali dari Mesir, kemudian tadi disampaikan bahwa atas desakan mahasiswa, Ketua DPR waktu itu Pak Harmoko bersama Pak Abdul Gafur dan dari Fraksi ABRI Sarwan Hamid menghadap Presiden Soeharto," cerita Wiranto dalam launching buku Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji, beberapa waktu lalu.
Mereka menyampaikan desakan mahasiswa agar Soeharto mundur. Pada saat itulah, kata Wiranto, terjadi tawar menawar antara pemerintah dengan ABRI. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan sebab menabrak aturan hukum berlaku.
"Waktu itu, dengan dasar Undang-Undang Dasar 1945 Presiden itu diangkat dan diberhentikan oleh MPR, lembaga tertinggi negara yang bisa minta berhenti adalah MPR," terang Wiranto.
Wiranto Menghadap Pak Harto
Akhirnya, Wiranto ikut menghadap Soeharto kala itu. Ia menyampaikan sikap ABRI akan tetap mempertahankan pemerintahan sesuai amanat Undang-Undang. Meski demikian, Wiranto menjelaskan kepada Soeharto jika pemerintahan tetap dipertahankan maka akan jatuh korban lebih banyak lagi.
"Beliau mengatakan, saya tidak ingin rakyat menjadi korban. Saya tidak akan mempertahankan kekuasaan dengan alat-alat senjata," kata Wiranto menirukan perkataan Soeharto saat itu.
Seluruh ucapan Soeharto dicatat dengan rapih oleh Wiranto. "Itu saya catat. Kemudian proses berlanjut kan beliau ingin mereformasi kabinet, ternyata ada 14 menteri yang tanda tangan untuk tidak sedia untuk masuk ke kabinet reformasi," lanjut Wiranto.
Selain itu, kata Wiranto, Soeharto juga hendak membentuk Dewan Reformasi yang akan diisi oleh sejumlah tokoh negarawan.
"Waktu itu termasuk Gus Dur dan sebagainya, Amien Rais Gus Dur, eh Noorcholis Majid dan sebagainya, tapi akhirnya mereka juga mundur."
Sehingga, Wiranto menilai saat itu Soeharto tengah dalam kesendirian lantaran sejumlah tokoh yang ditunjuk untuk memperbaiki keadaan menyatakan tidak bersedia ikut serta.
"Mereka mundur, bapak ibu sekalian jadi presiden menurut saya sudah dalam kesendirian," tuturnya.