‘Jakarta Terbakar’ di 13 Mei 1998
Richard Lloyd Parry, seorang jurnalis asal Inggris Melihat jelas kemarahan massa mahasiswa di kawasan Grogol.
Kerusuhan Mei 1998 tidak pernah hilang dalam ingatan. Peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia 27 tahun silam. Banyak misteri yang belum terjawab hingga hari ini.
Hari itu, 13 Mei 1998, kawasan Grogol mulai disengat rasa marah usai penembakan mahasiswa oleh aparat keamanan.
Richard Lloyd Parry, seorang jurnalis asal Inggris Melihat jelas kemarahan massa mahasiswa di kawasan Grogol. Pemicu terjadinya kerusuhan yang lebih besar di sejumlah daerah.
Parry mengisahkan ada ratusan orang yang mondar-mandir di jalanan, depan kampus Universitas Trisakti. Dengan suara keras, mereka memanggil para mahasiswa untuk segera bergabung.
"Keluar! Ayo kita balas dendam kepada aparat!" teriak mereka seperti dikisahkan Parry dalam In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos.
Beberapa anak muda terlihat menghancurkan pot-pot bunga di pinggir jalan, sebagian lagi secara beramai-ramai mencabut tanda rambu lalu-lintas kemudian melemparkannya ke tengah jalan.
Selang beberapa jam, persimpangan jalan dekat Universitas Trisakti menjadi lautan manusia. Menurut Parry, dia juga melihat kehadiran perempuan dan anak-anak kecil di sudut jalan.
Penduduk kampung yang ada di kawasan itu telah bercampur dengan mahasiswa dan para pekerja kantor yang berpenampilan rapi atau berseragam perusahaan.
Awal Mula Penjarahan
Penjarahan dan pembakaran dimulai pertama kali di sebuah pompa bensin atau SPBU. Asap hitam membumbung ke angkasa, bersamaan dengan kemunculan orang-orang yang membawa bom molotov berisi minyak tanah atau bensin di tangan mereka.
Massa kemudian merangsek ke sebuah kantor bank: melempari dan menjarah isinya lalu membawa lari komputer-komputer ke jalanan untuk dibakar.
Kerusuhan dimulai dari Jalan Kiyai Tapa di Grogol, Jalan Daan Mogot, Jalan S.Parman, kemudian meluas ke wilayah lain menjelang siang hari.
Di beberapa pusat perbelanjaan seperti kawasan elektronik Glodok dan Mangga Dua, penjarahan berlangsung secara brutal. Bukan hanya barang-barang saja yang disasar tetapi juga para pemilik toko diperas, dianiaya bahkan dibunuh. Jakarta perlahan menjadi neraka sejak siang itu.
Aparat keamanan tak mampu menghalau massa yang jumlahnya melebihi mereka.
Jakarta Terbakar
13 Mei 1998 malam hari. Penjarahan merajalela kemana-mana. Sepanjang Matraman hingga Jatinegara. Massa perusuh berusaha membakar toko-toko. Tapi berhasil digagalkan warga setempat.
Salah satunya Mal Ramayana di kawasan Jatinegara. Pusat perbelanjaan ini selamat dari upaya pembakaran dan penjarahan. Sekelompok massa perusuh berusaha mendekati namun warga sekitar wilayah itu menjaga-nya secara ketat. Warga mengusir para pelaku kerusuhan ke arah Matraman.
"Mungkin massa itulah yang kemudian merusak Gedung Fuji dan menjarah isinya," ungkap Djajuli (62), salah seorang warga Jatinegara.