Marah Terus-Menerus Bikin Tekanan Darah Naik? Simak Fakta Medisnya
Kemarahan yang sering kali muncul dengan intensitas tinggi tidak hanya berdampak pada emosi, tetapi juga dapat merugikan kesehatan fisik seseorang.
Pernahkah Anda mendengar ungkapan 'marah-marah terus bisa bikin darah tinggi'? Ungkapan tersebut mungkin memiliki kebenarannya.
Marah yang berlebihan atau berlangsung lama dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Menurut American Psychological Association (APA), marah merupakan bentuk antagonisme terhadap seseorang atau sesuatu yang dianggap merugikan kita.
Seorang psikolog klinis yang juga merupakan profesor di Central Connecticut State University, Raymond Chip Tafrate, menjelaskan bahwa marah sangat terkait dengan respons fight, flight, or freeze.
"Ketika marah, kelenjar adrenal akan membanjiri tubuh dengan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Detak jantung naik, tekanan darah meningkat, dan tubuh dipersiapkan untuk bertarung atau lari," jelasnya.
Sebagaimana dilansir dari Everyday Health, sebagian besar pemicu kemarahan bukanlah situasi yang benar-benar mengancam nyawa, melainkan hal-hal sepele seperti kemacetan, email ketus dari rekan kerja, atau anak yang rewel.
Oleh karena itu, pelepasan hormon stres yang berulang kali dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Berikut adalah lima dampak marah terhadap tubuh yang perlu diwaspadai:
Kemarahan memberikan beban pada jantung
Emosi marah dapat menyebabkan peningkatan hormon stres yang berpotensi merusak fungsi jantung.
Penelitian menunjukkan bahwa kemarahan yang berlangsung singkat dapat mempengaruhi kemampuan otot jantung dalam memompa darah secara efisien.
Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke. Individu yang sering marah cenderung kesulitan dalam mengendalikan pikiran negatif mereka.
"Mereka punya risiko lebih besar terkena penyakit jantung koroner," ungkap Tafrate.
Rachel Lampert, MD, yang menjabat sebagai Direktur Program Kardiologi Olahraga di Yale Medicine, menambahkan, "Kami menemukan pasien dengan aritmia, baik fibrilasi atrium maupun ventrikel, lebih mungkin kambuh saat sedang marah atau stres."
Menurutnya, peningkatan kadar adrenalin saat marah dapat memicu perubahan listrik pada jantung yang berpotensi berbahaya. Dengan demikian, emosi marah tidak hanya memperburuk kesehatan jantung, tetapi juga dapat menyebabkan serangan jantung mendadak.
Kemarahan dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung
Penelitian berskala besar menunjukkan adanya keterkaitan antara emosi marah yang meledak-ledak dengan peningkatan risiko serangan jantung.
Dalam sebuah tinjauan sistematis yang melibatkan hampir 4.000 peserta dari 50 pusat medis di Amerika Serikat, peneliti menemukan bahwa risiko serangan jantung dapat meningkat lebih dari dua kali lipat setelah seseorang mengalami ledakan kemarahan.
Hasil studi ini memberikan wawasan penting mengenai dampak emosional terhadap kesehatan jantung.
Ketika seseorang mengalami kemarahan yang intens, hal ini dapat memicu reaksi fisiologis yang berpotensi membahayakan, seperti peningkatan tekanan darah dan detak jantung.
Oleh karena itu, penting untuk mengelola emosi dengan baik guna menjaga kesehatan jantung dan mencegah risiko serangan jantung yang lebih tinggi.
Kemarahan dapat mengganggu sistem pencernaan
Hubungan antara otak dan usus sangatlah kuat, sehingga emosi dapat langsung memengaruhi sistem pencernaan. Ketika tubuh berada dalam keadaan fight-or-flight, sistem saraf otonom yang bertanggung jawab atas proses pencernaan pun terganggu.
"Anda bisa berharap terjadi perubahan pada fungsi usus saat marah atau stres," ungkap Pankaj Jay Pasricha, MD, yang menjabat sebagai ketua bidang kedokteran di Mayo Clinic Scottsdale.
Penelitian menunjukkan bahwa stres dapat memicu berbagai gejala tidak nyaman pada saluran pencernaan, seperti nyeri perut, diare, hingga mual.
Kemarahan merusak kesehatan mental seseorang
Selain memengaruhi fisik, kesehatan mental juga dapat terpengaruh secara signifikan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kemarahan yang berlebihan sering kali terkait dengan gangguan emosional seperti depresi dan kecemasan.
Menurut American Psychological Association, kemarahan yang berlangsung lama dapat merusak kemampuan konsentrasi, menciptakan pola pikir yang sinis, dan mengganggu hubungan sosial.
"Reaksi marah bisa merusak hubungan terpenting dalam hidup kita," ungkap Tafrate.
Dalam kenyataannya, kemarahan sering kali memicu pertengkaran verbal dan bahkan kekerasan fisik, yang jelas dapat membahayakan kesehatan mental baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Kemarahan membuat tidur menjadi sulit
Penelitian yang dilakukan terhadap pria dan wanita paruh baya di Korea menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kemarahan sedang hingga tinggi memiliki risiko gangguan tidur yang meningkat antara 40 hingga 70 persen.
Menurut para peneliti, kemarahan dapat meningkatkan arousal psikologis yang menyebabkan pikiran menjadi gelisah, sehingga sulit untuk tidur nyenyak.
Hal ini berakibat pada terganggunya waktu tidur dan mengakibatkan tubuh tidak mendapatkan pemulihan yang optimal.