'Yaman Tidak Akan Meninggalkan Gaza Apa Pun Risikonya'
Aksi Houthi di Laut Merah merupakan bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina atas genosida Israel di Gaza.
Mahdi al-Mashat, kepala Dewan Politik Tertinggi Houthi, menyatakan kelompok perlawanan Yaman tidak akan meninggalkan Gaza “apa pun risikonya” .
Pernyataan tersebut muncul setelah pengumuman perjanjian gencatan senjata antara Houthi dan Amerika Serikat (AS).
“Apa yang terjadi membuktikan serangan kami menyakitkan dan akan terus berlanjut,” kata dia seperti dikutip dari TV Al Masirah yang berafiliasi dengan Houthi.
Dirinya memperingatkan tanggapan Houthi terhadap Israel yang akan “sangat menghancurkan dan menyakitkan”
“Tidak ada agresi yang akan menghalangi kami dari keputusan untuk mendukung Gaza sampai agresi berhenti dan blokade dicabut,” kata dia.
Gencatan Senjata AS dan Houthi
Pada Selasa (6/5), Presiden AS Donald Trump mengumumkan AS akan menghentikan pengeboman di Yaman, dengan menyatakan Houthi telah setuju untuk berhenti mengganggu jalur pelayaran penting di Timur Tengah.
Setelahnya, Oman mengatakan telah memediasi kesepakatan gencatan senjata antara Houthi dan AS.
Menurut pernyataan Oman, berdasarkan kesepakatan tersebut, baik AS maupun Houthi tidak akan saling menyerang, termasuk kapal-kapal AS di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
“Mereka berkata, jangan bom kami lagi, dan kami tidak akan menyerang kapal-kapal kalian,” ucap Trump tentang Houthi selama pertemuan di Ruang Oval dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Trump menambahkan, “saya akan menerima kata-kata mereka, dan kami akan menghentikan pengeboman terhadap Houthi mulai sekarang.”
Akan Tetap Melawan Israel
Setelah pengumuman tersebut, kepala komite revolusioner tertinggi Houthi Yaman, Mohammed Ali al-Houthi, mengatakan penghentian agresi AS terhadap Yaman akan dievaluasi.
Ia mengatakan kelompok itu akan terus mendukung Gaza untuk mengakhiri perang di sana, yang menunjukkan gencatan senjata dengan AS tidak berarti penghentian serangan Houthi terhadap Israel.
“Jika ada penghentian serangan, itu hanya berlaku untuk penargetan kapal-kapal Amerika. Penargetan kapal-kapal Israel akan terus berlanjut,” kata Daifallah al-Shami, anggota biro politik Houthi, seperti dilansir Aljazeera.
Pada Maret, kelompok tersebut mengumumkan mereka melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal Israel yang melintasi Laut Merah dan Laut Arab, Selat Bab al-Mandab serta Teluk Aden. Keputusan ini diambil untuk membalas blokade total yang dilakukan Israel terhadap bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Houthi setidaknya telah meluncurkan lebih dari 100 serangan yang menyasar pelayaran sejak November 2023. Aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina atas genosida Israel di Gaza.
Serangan-serangan ini turut berdampak pada perdagangan global, memaksa sebagian besar lalu lintas maritim antara Asia dan Eropa menghindari Terusan Suez dan menempuh jalur yang lebih panjang mengelilingi Afrika.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey