Trump Ingin Usir Permanen Rakyat Palestina dari Gaza, Sebut Mereka 'Tak Punya Hak Untuk Kembali'
Trump berulang kali menyatakan rencananya untuk menguasai Gaza dan mengusir rakyat Palestina.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan rakyat Palestina tidak punya hak untuk kembali ke Gaza jika rencananya untuk mengusir mereka dari tanah air mereka terlaksana. Trump berulang kali menyatakan rencananya untuk menguasai Gaza dan mengusir rakyat Palestina yang tinggal di wilayah yang hancur dibombardir penjajah Israel tersebut.
Saat bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington pada 4 Februari, Trump mengungkapkan rencananya merebut Gaza dan membangun kembali wilayah tersebut.
Dalam wawancaranya dengan Bret Baier dari Fox News pada Minggu, Trump mengatakan akan membangun "komunitas indah" di Gaza, merancang dan membangun "Riviera" Asia Barat. Istilah "Riviera" merujuk pada daerah pesisir yang indah dan sering digunakan untuk menggambarkan kawasan pesisir yang mewah, seperti "French Riviera" di Prancis atau "Italian Riviera" di Italia.
Dalam siaran paruh kedua pada Senin, Trump mengatakan dia akan “memiliki” Gaza.
“Saya akan memilikinya,” katanya, seraya menambahkan mungkin ada enam lokasi berbeda bagi warga Palestina untuk tinggal di luar Jalur Gaza, seperti dikutip dari laman Press TV, Selasa (11/2).
Ketika ditanya oleh Baier apakah warga Palestina berhak kembali ke Gaza, Trump menjawab, “Tidak.”
“Tidak, mereka tidak akan melakukannya, karena mereka akan mempunyai perumahan yang jauh lebih baik. Dengan kata lain, yang saya maksud adalah membangun tempat permanen bagi mereka karena jika mereka harus kembali sekarang, maka hal tersebut akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum bisa dibangun – tempat tersebut tidak layak huni.”
Pernyataan Trump bertentangan dengan Resolusi Majelis Umum PBB 194, yang mendefinisikan prinsip-prinsip untuk mencapai penyelesaian akhir “perdamaian” yang mencakup “hak pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah air mereka.”
Sementara itu, rencana Trump untuk merelokasi warga Gaza mendapat kecaman luas. Sejumlah negara Eropa, Yordania, Arab Saudi, dan Mesir menolak rencana tersebut.