Sekjen NATO: Eropa Tak Bisa Bertahan Tanpa Dukungan Amerika Serikat
Mark Rutte mengingatkan bahwa untuk mencapai kemandirian dalam pertahanan, biaya yang diperlukan akan sangat tinggi.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menegaskan bahwa Eropa tidak dapat mempertahankan diri tanpa dukungan militer dari Amerika Serikat (AS).
Ia menyatakan bahwa untuk mencapai kemandirian dalam pertahanan, negara-negara Eropa harus meningkatkan anggaran pertahanan mereka lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan target pengeluaran militer saat ini.
"Jika ada yang berpikir di sini bahwa Uni Eropa atau Eropa secara keseluruhan bisa mempertahankan diri tanpa AS, teruslah bermimpi. Itu tidak mungkin," ujar Rutte kepada anggota parlemen Uni Eropa di Brussels pada Senin (26/1) seperti yang dilaporkan oleh Associated Press.
Rutte juga menambahkan bahwa Eropa dan AS saling membutuhkan satu sama lain.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di dalam NATO, menyusul ancaman yang dilontarkan oleh Presiden Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir mengenai rencananya untuk mencaplok Greenland, yang merupakan wilayah semiotonom milik Denmark, sekutu NATO.
Selain itu, Trump juga mengungkapkan rencana untuk menerapkan tarif baru terhadap Denmark dan negara-negara Eropa lainnya terkait dengan Greenland.
Namun, ancaman tersebut akhirnya dicabut setelah tercapai sebuah "kerangka kerja" kesepakatan mengenai pulau yang kaya akan sumber daya mineral tersebut, dengan bantuan dari Rutte.
Hingga saat ini, rincian kesepakatan tersebut masih sangat terbatas dan belum banyak diungkapkan kepada publik.
NATO, yang terdiri dari 32 negara anggota, terikat oleh klausul pertahanan kolektif yang diatur dalam Pasal 5 Traktat Washington, yang merupakan dokumen pendirian aliansi ini.
Pasal tersebut mewajibkan setiap negara anggota untuk memberikan bantuan kepada sekutunya jika wilayah mereka berada dalam ancaman. Hal ini menunjukkan pentingnya kerjasama dan saling dukung antara anggota NATO dalam menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan.
Penjamin Kebebasan
Pada KTT NATO yang berlangsung di Den Haag pada bulan Juli lalu, negara-negara sekutu Eropa, kecuali Spanyol, bersama Kanada sepakat untuk memenuhi permintaan Trump agar mereka menginvestasikan persentase produk domestik bruto (PDB) yang setara dengan Amerika Serikat dalam sektor pertahanan selama sepuluh tahun ke depan.
Mereka berkomitmen untuk mengalokasikan 3,5 persen dari PDB untuk pertahanan inti dan tambahan 1,5 persen untuk infrastruktur yang berkaitan dengan keamanan.
Dengan langkah ini, total pengeluaran untuk pertahanan ditargetkan mencapai 5 persen dari PDB pada tahun 2035.
Meski demikian, Rutte menilai angka tersebut masih belum mencukupi jika Eropa ingin memiliki kemandirian yang nyata.
"Jika Anda benar-benar ingin berjalan sendiri. Lupakan bahwa Anda bisa mencapainya dengan 5 persen. Angkanya akan menjadi 10 persen. Anda harus membangun kemampuan nuklir sendiri. Itu membutuhkan biaya miliaran dan miliaran euro," katanya.
Prancis selama ini menjadi penggerak utama untuk mendorong Eropa memiliki kemandirian dalam aspek pertahanan.
Dukungan terhadap gagasan ini semakin meningkat setelah pemerintahan Trump memberi sinyal bahwa prioritas keamanan Amerika Serikat kini berpindah ke tempat lain, sehingga negara-negara Eropa perlu mampu melindungi diri mereka sendiri.
"Tanpa AS, Eropa akan kehilangan penjamin utama kebebasan kita, yaitu payung nuklir AS. Jadi, semoga beruntung," kata Rutte kepada para anggota parlemen.