Pria Ini Menyesal Terlalu Hidup Hemat hingga Harus Kehilangan Istrinya
Apa saja metode yang diterapkan oleh pria di Jepang untuk menghemat pengeluaran?
Seorang pria berusia 67 tahun dari Jepang yang telah menjalani hidup dengan sangat hemat selama bertahun-tahun, kini merasa menyesal setelah kehilangan istrinya.
Ia menyadari bahwa seharusnya ia bisa lebih menikmati waktu bersama orang yang dicintainya. Pria yang dikenal dengan nama samaran Suzuki ini menjadi perhatian publik setelah kisahnya diliput oleh media manajemen aset, The Gold Online.
Suzuki lahir dalam keluarga yang kurang mampu dan mulai bekerja paruh waktu sejak masih di bangku sekolah menengah.
Setelah mendapatkan pekerjaan tetap, ia memilih untuk tinggal di apartemen murah yang jauh dari tempat kerjanya, memasak sendiri, dan membawa bekal sederhana yang biasanya terdiri dari tauge dan ayam.
Untuk mengurangi pengeluaran listrik, ia jarang menyalakan AC, lebih memilih berjalan kaki atau bersepeda, serta tidak pernah makan di restoran.
Gaya hidup hemat ini telah menjadi prinsip hidupnya selama bertahun-tahun, seperti yang dikutip dari laman SCMP pada Minggu (28/9).
Istrinya, yang juga adalah rekan kerjanya, menerima kebiasaan hidup tersebut. Setelah mereka dikaruniai seorang anak, keluarga mereka tetap menjalani gaya hidup yang sederhana.
Rekreasi keluarga biasanya dilakukan dengan piknik di taman terdekat, dan saat bepergian, Suzuki selalu memilih rute yang paling murah. Mereka tidak pernah membeli rumah atau mobil.
Berkat disiplin dalam mengatur keuangan, Suzuki berhasil mengumpulkan tabungan sebesar 35 juta yen, yang setara dengan sekitar Rp3,6 miliar.
Di usia 60 tahun, ia mulai menarik sebagian dana pensiun untuk berinvestasi, sehingga total asetnya mencapai 65 juta yen, atau sekitar Rp6,8 miliar.
"Uang ini saya simpan untuk keadaan darurat dan masa depan," ungkapnya pada waktu itu.
Namun, kebahagiaannya hancur ketika sang istri didiagnosis dengan penyakit serius tak lama setelah ia pensiun. Istrinya meninggal dunia pada usia 66 tahun.
Penyesalan saat menjelang akhir hidup
Saat ini, Suzuki hanya dapat merasa menyesal atas pilihannya yang terlalu terfokus pada penghematan.
"Saya berharap bisa lebih sering mengajak istri berlibur atau sekadar makan di restoran," ungkapnya.
"Namun, waktu tidak dapat diputar kembali. Apa arti hidup jika hanya uang yang tersisa?" tambahnya.
Fenomena di Jepang
Suzuki bukanlah satu-satunya yang merasakan hal ini. Gaya hidup hemat yang ekstrem telah menjadi fenomena yang menarik perhatian di Jepang.
Tahun lalu, seorang pria berusia 45 tahun juga menjadi sorotan setelah berhasil menabung sebesar 135 juta yen (sekitar Rp14,2 miliar) dengan menjalani kehidupan sederhana selama lebih dari dua dekade.
Menu makanan sehari-harinya hanya terdiri dari buah plum asam, sayuran asin, dan semangkuk nasi. Terkadang, makan malamnya hanya berupa minuman energi yang diperolehnya secara gratis melalui poin belanja di toko swalayan.