Pria Ini Jalani Hidup Susah Selama 21 Tahun Demi Pensiun Dini, tapi Ujungnya Malah Sia-Sia
Pria ini tinggal di asrama perusahaan dan menggunakan perabotan bekas. Tidak itu saja, dia juga membatasi makannya dengan seirit mungkin.
Hidup hemat dan sederhana dengam frugal living. (Foto: Kelly Sikkema/Unsplash)
(@ 2023 merdeka.com)Viral seorang pria di Jepang berusia 45 tahun karena gaya hidup hematnya yang ekstrem demi mencapai pensiun dini.
Dia rela hidup susah bertahun-tahun dengan berbagai keterbatasan demi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk memastikan kehidupan hari tuanya terjamin.
Untuk bisa mencapai taraf 'FIRE' (financial independence, retire early), pria yang tak disebutkan namanya ini bertahan hidup dengan cara ekstrem sejak tahun 2000-an dan masih konsisten sampai saat ini.
Pria ini tinggal di asrama perusahaan dan menggunakan perabotan bekas. Tidak itu saja, dia juga membatasi makannya dengan seirit mungkin.
Jika malam hari, pria tersebut hanya makan nasi, sayur, dan plum. Bahkan, dia pernah hanya mengkonsumsi minuman berenergi gratis dari minimarket.
Suatu hari, microwave-nya rusak, pria ini memilih makan ubi sepanjang tahun agar tidak keluar biaya dalam jumlah besar. Menariknya, ubi yang jadi makanannya sehari-hari itu dimasak dengan cara yang unik. Saat Matahari terik, pria itu menjemurnya di atas kaca mobil milik temannya.
Mengutip laman dream.co.id, pria ini juga tak pernah menggunakan pendingin maupun penghangat ruangan. Untuk menghemat biaya pemanas, dia memilih berolahraga squat saat cuaca dingin.
Ketika cuaca terasa panas, pria ini akan memakai kaus yang dibasahi dengan air agar lembap sehingga tidak merasa kegerahan.
Kendati menjalani hidup super hemat, pria ini memiliki penghasilan yang cukup besar, yaitu 5 juta yen (sekitar Rp 524 juta) per tahun.
Dia bekerja di perusahaan yang mendorong budaya lembur dan mengajarkan bahwa kebahagiaan hanya datang dari kerja keras.
Setelah 20 tahun 10 bulan bekerja, dia berhasil mengumpulkan 135 juta yen (sekitar Rp14 miliar). Pria tersebut bahkan menulis buku tentang tips menabung dan menghasilkan uang tambahan.
Namun, kebahagiaan pria ini mulai pudar ketika nilai tukar yen menurun drastis. Tabungannya yang bernilai miliaran rupiah mengalami penurunan yang signifikan.
"Jika yen terus turun, aku tidak akan pernah mencapai kebebasan finansial. Apa yang telah aku kerjakan selama 21 tahun ini? Itu semua tidak ada artinya, tragis sekali," keluhnya.