Penembakan Massal di Pantai Bondi Australia, Naveed Akram Dijerat 15 Dakwaan Pembunuhan
Naveed merupakan salah satu dari dua orang yang terlibat dalam aksi penembakan massal yang terjadi baru-baru ini.
Naveed Akram, pelaku penembakan massal yang terjadi pada Minggu (14/12/2025) di Bondi Beach, Sydney, Australia, menghadapi 59 dakwaan, termasuk 15 dakwaan pembunuhan dan satu dakwaan terkait tindakan terorisme. Hal ini disampaikan oleh Kepolisian New South Wales seperti yang dilansir oleh BBC.
Dalam insiden tersebut, ayahnya, Sajid Akram (50), tewas setelah terlibat baku tembak dengan pihak kepolisian. Penembakan di Bondi Beach ini mengakibatkan sedikitnya 15 orang tewas dan puluhan lainnya terluka, dengan sasaran khusus pada komunitas Yahudi Australia yang tengah merayakan malam pertama Hanukkah. Peristiwa ini tercatat sebagai penembakan paling mematikan di Australia sejak tahun 1996.
Selain dari dakwaan pembunuhan, Naveed juga menghadapi 40 dakwaan yang berkaitan dengan menyebabkan luka berat dengan niat untuk membunuh, serta satu dakwaan terkait tindakan menampilkan simbol organisasi teroris yang dilarang di ruang publik. Naveed mengalami luka kritis akibat insiden tersebut.
Berdasarkan informasi dari Pengadilan New South Wales, ia menjalani sidang pertamanya dari tempat tidur rumah sakit. Pengadilan juga menyatakan bahwa perkara ini akan ditunda hingga April 2026. Komisaris Kepolisian New South Wales, Mal Lanyon, menjelaskan pada Rabu (17/12) bahwa pihaknya masih menunggu efek dari obat-obatan yang dikonsumsi Naveed mereda sebelum melakukan pemeriksaan resmi. "Demi keadilan baginya, kami perlu memastikan ia memahami dengan jelas apa yang sedang terjadi," ungkap Lanyon.
Masih Ada Belasan Orang yang Menjalani Perawatan
Hingga malam Rabu waktu setempat, terdapat 17 orang yang masih dirawat di rumah sakit di berbagai lokasi di Sydney. Dari jumlah tersebut, satu orang dalam kondisi kritis, sedangkan empat lainnya berada dalam keadaan kritis tetapi stabil. Polisi telah secara resmi mengklasifikasikan serangan ini sebagai insiden terorisme. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan bahwa serangan tersebut didorong oleh ideologi kelompok ISIS.
Pada hari Selasa, terungkap bahwa Naveed Akram dan ayahnya pernah melakukan perjalanan ke Filipina pada bulan November. Biro Imigrasi Filipina menginformasikan kepada BBC bahwa keduanya berada di negara tersebut dari tanggal 1 hingga 28 November, dengan tujuan akhir di Kota Davao, yang terletak di Filipina selatan. Naveed Akram memasuki Filipina menggunakan paspor Australia, sedangkan Sajid Akram menggunakan paspor India.
"Sajid Akram diketahui berasal dari Kota Hyderabad di India bagian selatan, namun memiliki hubungan yang terbatas dengan keluarganya di sana," kata seorang pejabat kepolisian dari negara bagian Telangana.
Di antara para korban yang tewas, terdapat dua rabi, seorang penyintas Holocaust, dan seorang gadis berusia 10 tahun yang diidentifikasi oleh keluarganya bernama Matilda. Selain itu, sebanyak 27 orang lainnya telah dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka, termasuk dua anggota kepolisian. Salah satu petugas, Jack Hibbert (22), mengalami kehilangan penglihatan di satu matanya dan diperkirakan akan menjalani pemulihan yang panjang dan penuh tantangan.
Kritik terhadap Perdana Menteri Australia
Pada pagi hari Rabu, ribuan orang berkumpul untuk menghadiri pemakaman Rabi Eli Schlanger, yang lahir di Inggris, menandai pemakaman pertama bagi salah satu korban penembakan tersebut. Sayangnya, Albanese tidak hadir dalam upacara yang penuh haru itu. Menjawab pertanyaan dari ABC NewsRadio, Albanese menyatakan, "Saya akan menghadiri acara apa pun jika saya diundang. Pemakaman ini merupakan acara pribadi untuk melepas kepergian orang-orang tercinta."
Komunitas Yahudi mengungkapkan kritik terhadap Albanese karena dianggap tidak cukup tanggap dalam menangani isu antisemitisme yang semakin meningkat. Sebagai respons terhadap kritik tersebut, Albanese menegaskan bahwa pemerintahannya telah melakukan berbagai langkah, termasuk menunjuk utusan antisemitisme pertama di Australia, memperketat undang-undang mengenai ujaran kebencian, serta meningkatkan pendanaan untuk proyek kohesi sosial dan institusi Yahudi.
Dalam upacara pemakaman tersebut, Rabi Levi Wolff menyampaikan bahwa wafatnya Rabi Schlanger merupakan kehilangan yang sangat mendalam bagi komunitas. "Eli direnggut dari kami saat melakukan apa yang paling ia cintai," ungkapnya.
"Menyebarkan cinta dan sukacita serta melayani umatnya dengan pengorbanan diri tanpa batas, baik dalam hidup maupun dalam kematiannya, ia menjulang sebagai salah satu jiwa yang paling luhur dan paling suci."
Diketahui bahwa Rabi Schlanger juga berperan penting dalam mengorganisasi acara Hanukkah yang menjadi sasaran serangan tersebut. Pemakaman bagi korban lainnya direncanakan akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, termasuk pemakaman Matilda, yang merupakan korban termuda, yang akan dilaksanakan pada hari Kamis (18/12).