Orang Penting Gedung Putih Sebut Kepribadian Trump Mirip Pecandu Alkohol
Susie Wiles menuduh Trump melakukan tindakan yang tidak etis dan merugikan, termasuk manipulasi politik dan pengabaian terhadap prinsip-prinsip demokrasi.
Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles, memberikan serangkaian pernyataan terbuka mengenai Presiden Amerika Serikat Donald Trump, agenda masa jabatan keduanya, dan beberapa sekutu terdekat presiden dalam wawancara mendalam dengan majalah Vanity Fair yang diterbitkan pada Selasa (16/12) waktu setempat.
Dalam lebih dari sepuluh sesi wawancara yang dilakukan selama setahun terakhir dengan penulis Chris Whipple, Wiles menyampaikan pandangan yang jarang terdengar dari pejabat setinggi dirinya.
Wiles menggambarkan Trump memiliki "kepribadian seorang pecandu alkohol," meskipun presiden tidak dikenal mengonsumsi minuman keras, seperti yang dilaporkan oleh CNN pada Rabu (17/12) dikutip Liputan6.
Ia juga mengungkapkan bahwa banyak keputusan yang diambil Trump selama periode kedua pemerintahannya dipengaruhi oleh motivasi balas dendam politik.
Wiles dengan tegas mengakui bahwa beberapa langkah pemerintahannya bisa dipersepsikan sebagai tindakan balasan terhadap lawan-lawan politiknya.
Ketika ditanya mengenai kegagalan penuntutan terhadap mantan Direktur FBI, James Comey, Wiles mengatakan, "Orang-orang mungkin berpikir itu terlihat seperti balas dendam. Saya tidak bisa memberi tahu Anda mengapa Anda tidak boleh berpikir demikian."
Ia menambahkan bahwa meskipun Trump tidak selalu memulai harinya dengan niat untuk membalas dendam, dia akan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
"Ketika ada kesempatan, dia akan mengambilnya," ujar Wiles.
Pernyataan-pernyataan tersebut menjadi sorotan publik karena Wiles dikenal sebagai sosok yang tertutup dan berhati-hati.
Berbeda dengan kepala staf di masa jabatan pertama Trump, Wiles dinilai berhasil menjaga stabilitas internal Gedung Putih dan mempertahankan kepercayaan presiden tanpa membatasi dorongan Trump secara terbuka.
Trump sendiri sering menyebut Wiles sebagai "wanita paling berkuasa di dunia," yang menunjukkan besarnya pengaruhnya dalam urusan pemerintahan.
Namun, pernyataan publik Wiles selama masa jabatan kedua Trump terbilang minim, sehingga wawancaranya dengan Vanity Fair dianggap tidak biasa.
Menanggapi publikasi artikel tersebut, Wiles mengklaim bahwa ucapannya telah diambil di luar konteks.
Dalam unggahan di platform X, ia menyebut artikel itu sebagai "serangan yang dibuat-buat" terhadap dirinya, presiden, dan jajaran kabinet.
"Konteks penting diabaikan dan banyak pernyataan positif tentang presiden dan tim kami dihilangkan," tulisnya.
Trump Beri Pujuan ke Susie Wiles Karena Kinerjanya
Trump memberikan tanggapan singkat mengenai isu yang berkembang. Dalam wawancara dengan New York Post, ia menyatakan tidak membaca artikel tersebut, tetapi tetap memberikan pujian kepada Wiles.
"Dia telah melakukan pekerjaan yang fantastis," ungkap Trump, sambil mengakui bahwa dirinya memiliki "kepribadian yang posesif dan adiktif."
Selain itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, juga membela Wiles dengan menyatakan bahwa Trump tidak memiliki penasihat yang lebih hebat atau lebih setia dibandingkan kepala stafnya, serta menegaskan dukungan penuh pemerintahan terhadap kepemimpinan Wiles.
Chris Whipple, dalam wawancara dengan CNN, membela laporannya dan menegaskan bahwa seluruh wawancara telah direkam dan disajikan dalam konteks yang tepat.
"Mereka belum mampu membantah satu pun fakta," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wiles juga menyentuh beberapa isu sensitif lainnya. Ia mengakui bahwa Trump tidak memiliki bukti untuk mendukung tuduhannya bahwa mantan Presiden Bill Clinton pernah mengunjungi pulau milik terpidana pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.
"Presiden salah tentang itu," katanya.
Selain itu, Wiles juga mengkritik beberapa tokoh kunci pemerintahan, termasuk Wakil Presiden JD Vance yang disebutnya sebagai penganut teori konspirasi selama satu dekade dan menggambarkan miliarder teknologi Elon Musk sebagai sosok "sangat aneh," meskipun diakui sebagai jenius.
Wiles mengaku terkejut dengan peran Musk dalam pembubaran Badan Pembangunan Internasional AS (USAID).