Negara Ini Larang Nama Bayi Unik Seperti Pikachu dan Nike, Ternyata Ini Alasannya
Pemerintah negara ini memberlakukan aturan baru yang melarang nama bayi unik seperti Pikachu dan Nike.
Pemerintah Jepang secara resmi memberlakukan aturan baru pada 3 Juni 2025. Aturan ini membatasi pemberian nama bayi yang dianggap terlalu "unik" atau "berkilau" (kirakira). Nama-nama seperti Pikachu dan Nike termasuk dalam daftar yang dilarang. Petugas catatan sipil berhak menolak pendaftaran nama jika pelafalannya tidak sesuai dengan bacaan kanji standar.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya tren nama bayi yang tidak lazim. Nama-nama ini seringkali menyulitkan pengucapan dan penulisan. Sistem penulisan Jepang yang kompleks, dengan penggunaan kanji yang memiliki banyak pelafalan, menjadi salah satu penyebabnya.
Penerapan aturan ini memicu perdebatan di kalangan masyarakat Jepang. Sebagian berpendapat bahwa orang tua memiliki hak penuh untuk memilih nama anak mereka. Sementara yang lain mendukung aturan tersebut demi kebaikan anak di masa depan.
"Bukankah anak adalah milik orang tua, bukan negara?" tulis seorang pengguna di X, seperti yang dilaporkan oleh CNN pada Kamis (29/5/2025). Di sisi lain, ada komentar yang menyatakan, "Nama unik seperti itu hanya akan membuat anak menjadi sasaran bully," yang diungkapkan dengan nada sarkastis. Sementara itu, ada juga yang berpendapat, "Jangan larang nama kirakira. Itu cara untuk menilai kecerdasan orang tua," ungkap salah satu warganet.
Alasan Jepang Tindak Tegas Nama Bayi Unik
Alasan utama pemerintah Jepang memberlakukan aturan ini adalah efisiensi administrasi. Nama-nama unik seringkali menggunakan kanji berdasarkan bunyi, bukan bacaan standarnya. Hal ini menyebabkan kebingungan dan kesulitan bagi berbagai instansi.
Rumah sakit, sekolah, dan instansi pemerintah mengalami kesulitan dalam administrasi dan pengucapan nama-nama tersebut. Aturan ini diharapkan dapat mengurangi potensi kesalahan dan memperlancar proses administrasi.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan potensi dampak sosial bagi anak. Nama-nama yang terlalu unik dikhawatirkan dapat menyebabkan anak menjadi sasaran bullying atau mengalami kesulitan dalam mengurus dokumen resmi di kemudian hari.
Pro Kontra Aturan Nama Bayi di Jepang
Aturan ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat Jepang. Pihak yang kontra berpendapat bahwa aturan ini melanggar hak orang tua untuk memberikan nama yang mereka inginkan kepada anak mereka.
Mereka berpendapat bahwa nama adalah identitas dan ekspresi diri. Pemerintah seharusnya tidak ikut campur dalam urusan pribadi seperti ini. Kebebasan memilih nama adalah bagian dari kebebasan individu.
Sementara itu, pihak yang pro mendukung aturan ini demi kebaikan anak. Mereka khawatir nama-nama unik dapat mempersulit anak di kemudian hari, baik secara sosial maupun administratif. Nama yang terlalu aneh bisa jadi beban bagi anak.
Dampak Aturan Baru Terhadap Tren Nama Bayi
Sistem penulisan di Jepang menggunakan kanji, yang merupakan aksara dari China, dan memiliki berbagai pelafalan tergantung pada konteks penggunaannya. Dalam tradisi penamaan yang dikenal sebagai kirakira, yang populer sejak tahun 1980-an, orang tua sering memilih kanji berdasarkan bunyi, seperti pada nama "Pikachu", meskipun pelafalan tersebut tidak lazim untuk aksara yang digunakan. Hal ini mirip dengan tren penamaan unik di Amerika Serikat, contohnya "Ashleigh" yang berbeda dari "Ashley" atau "Catelynn" sebagai alternatif dari Caitlin. Baru-baru ini, aturan baru ditetapkan yang mewajibkan pelafalan nama harus sesuai dengan bacaan kanji yang standar. Jika tidak, petugas catatan sipil berhak untuk menolak pendaftaran nama tersebut.
Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa orang tua akan mencari cara lain untuk mengekspresikan kreativitas mereka dalam memberikan nama. Mereka mungkin akan memilih nama-nama yang unik namun tetap sesuai dengan aturan yang berlaku.
Aturan ini mencerminkan upaya pemerintah Jepang untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan individu dan ketertiban sosial. Pemerintah berupaya melindungi anak-anak dari potensi dampak negatif nama-nama yang terlalu unik.
Perbandingan dengan Negara Lain
Tren pemberian nama unik juga terjadi di negara lain, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Namun, setiap negara memiliki peraturan yang berbeda-beda terkait penamaan bayi.
Beberapa negara memiliki aturan yang lebih ketat dibandingkan Jepang, sementara yang lain lebih longgar. Peraturan penamaan bayi mencerminkan nilai-nilai budaya dan sosial yang berbeda di setiap negara.
Setiap negara memiliki regulasi tersendiri terkait nama yang diperbolehkan. Di Amerika Serikat, peraturan ini sering berbeda-beda di masing-masing negara bagian; misalnya, di California, nama-nama bayi hanya dapat menggunakan 26 huruf dari alfabet bahasa Inggris. Hal ini menjadi perhatian ketika Elon Musk dan Grimes memberi nama anak mereka "X A-12." Akhirnya, mereka memodifikasi nama tersebut menjadi "X A-Xii."
Di Jerman, nama bayi bisa ditolak oleh pihak berwenang jika dianggap menyinggung atau berpotensi merugikan anak. Contohnya, pemerintah kota Frankfurt pernah melarang penggunaan nama "Borussia," yang merujuk pada klub sepak bola, serta "Gastritis," karena dianggap dapat "membahayakan kesejahteraan anak." Sementara itu, Selandia Baru juga menerapkan peraturan ketat yang melarang penggunaan gelar, sehingga nama-nama seperti "Raja" dan "Pangeran" sering kali ditolak.