Israel Gagal Total di Iran, Begini Analisis Pakar
Netanyahu menyatakan tujuan perangnya adalah untuk melumpuhkan program nuklir dan perubahan rezim Iran.
Apa yang dicapai Israel di Iran setelah 12 hari perang? Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim kemenangan dengan mengatakan tujuan Israel telah tercapai.
Pada awal perang yang berlangsung, Netanyahu menyatakan dua tujuan utamanya, yakni “melumpuhkan program nuklir” dan “pergantian rezim.”
Pengamat independen Ori Goldberg mengatakan, Israel bahkan tidak mencapai salah satu dari tujuannya tersebut. Tampaknya Iran telah memindahkan material uranium dari fasilitas Fordow yang diserang Amerika Serikat pada Minggu (22/6) lalu. Material itu adalah bagian terpenting dari program nuklir. Dan tujuan Netanyahu untuk ”melumpuhkan program nuklir" Iran gagal, kata dia, seperti dilansir Aljazeera, Rabu (25/6).
Gagal Mempengaruhi Rakyat Iran untuk Perubahan Rezim
Mengenai tujuan Netanyahu untuk “perubahan rezim” di Iran juga gagal. Israel justru mendapatkan hal yang sebaliknya. Mereka berusaha memicu pemberontakan terhadap rezim Iran dengan membunuh pada pemimpin militer dari berbagai struktur keamanan Iran. Strategi ini didasarkan pada keyakinan kuat Netanyahu bahwa cara terbaik untuk mengacaukan musuh adalah melalui pembunuhan para pemimpin senior.
Tujuannya itu tidak berhasil. Satu-satunya pengecualian yang mungkin adalah dampak kematian Hassan Nasrallah terhadap Hizbullah di Lebanon, tetapi hal itu lebih berkaitan dengan dinamika politik internal Lebanon. Pada semua kasus lainnya, pembunuhan Israel gagal menciptakan perubahan politik besar apa pun.
Dalam kasus Iran, pembunuhan ini justru menambah dukungan rakyat di sekitar pemerintah. Israel membunuh komandan senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang mungkin merupakan elemen paling kuat dalam politik Iran saat ini, tetapi juga menjadi salah satu yang paling dibenci oleh masyarakat Iran.
Memperburuk situasi
Terlepas dari itu, banyak warga Iran yang sebelumnya menentang Republik Islam, akhirnya mendukungnya. Orang Iran melihat Iran dengan secara keseluruhan diserang, bukan hanya tentang “rezimnya.”
Upaya Israel untuk mengebom “simbol-simbol rezim” hanya memperburuk situasi. Israel mencoba memutarbalikkan serangan udaranya terhadap Penjara Evin, yang terkenal karena penyiksaan tahanan politik. Serangan itu mereka tujukan untuk mempengaruhi pejuang rakyat Iran agar melawan penindasan Republik Islam. Namun, bom Israel hanya memperburuk situasi para tahanan karena pihak berwenang memindahkan banyak dari mereka ke lokasi yang tidak diketahui.
Pengeboman Israel terhadap stasiun televisi negara Iran IRIB juga tidak masuk akal. Israel mengklaim bahwa mereka membatasi upaya rezim tersebut untuk menyebarkan propaganda. Seperti yang ditunjukkan oleh banyak orang Israel, pengeboman ini memberi Iran pembenaran yang mereka butuhkan untuk mengancam stasiun televisi Israel juga.
Gagal Melumpuhkan Program Nuklir Iran
Kerusakan yang ditimbulkan Israel terhadap program nuklir Iran masih tidak jelas. Memang, Israel berhasil membujuk AS untuk menyerang fasilitas nuklir Iran menggunakan bom penghancur Bunker, Massive Ordnance Penetrators (MOP). Namun serangan AS itu tidak banyak membantu Israel. Tingkat kerusakan akan sulit dievaluasi karena Iran tidak mungkin memberi akses luar.
Dengan membantu Israel menyerang program nuklir Iran, mereka justru melanggar beberapa aturan utama hukum internasional. Hal ini kemungkinan akan memiliki implikasi jangka panjang. Namun, Trump tidak ikut berperang bersama Israel. Segera setelah serangan itu, pesawat pengebom strategis kembali ke AS.
Sebelum dan sesudah melakukan pengeboman, Trump mengulangi dan menegaskan kembali keinginannya untuk kesepakatan antara AS dan Iran. Hal ini mungkin juga mencakup kesepakatan dengan Israel. Namun tampaknya presiden AS membantu Israel untuk melayani kepentingannya sendiri dan kepentingan sekutunya di Teluk.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey