Israel Bunuh 14 Ilmuwan Iran Bukan karena Mereka Ahli Fisika, Tapi karena Alasan Ini
Duta besar Israel untuk Prancis mengungkap alasan mengapa ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran dibunuh.
Duta Besar Israel untuk Prancis, Joshua Zarka, pada Senin (23/6) mengatakan serangan Israel menewaskan sedikitnya 14 fisikawan dan insinyur nuklir, serta pemimpin ilmiah terkemuka Iran yang “pada dasarnya memiliki segalanya dalam pikiran mereka.”
Berbicara kepada Associated Press (AP), Zarka mengatakan alasan mengapa ilmuwan-ilmuwan tersebut dibunuh.
“Mereka dibunuh bukan karena menguasai ilmu fisika, tetapi karena keterlibatan langsung mereka dalam perancangan, perakitan, dan produksi nuklir,” ujar dia.
Zarka membedakan antara penelitian nuklir sipil dan para ilmuwan yang menjadi sasaran serangan Israel.
Tidak semudah itu
“Mempelajari fisika dan mengetahui secara pasti bagaimana inti atom bekerja dan apa itu uranium adalah satu hal,” katanya.
Namun, mengubah uranium menjadi hulu ledak yang dapat dipasang pada rudal “tidak semudah itu,” imbuhnya.
“Orang-orang ini memiliki pengetahuan untuk melakukannya, dan terus mengembangkan pengetahuan untuk melakukannya lebih jauh. Inilah sebabnya mereka disingkirkan.”
Berdasarkan keterangan militer Israel, sembilan dari 14 ilmuwan tewas dalam serangan pembuka Israel pada 13 Juni.
Selain karena pengetahuan para ilmuan itu, Zarka menambahkan bahwa ilmuwan-ilmuwan tersebut “memiliki pengalaman puluhan tahun dalam pengembangan senjata nuklir,” dan termasuk spesialis dalam bidang kimia, material, dan bahan peledak serta fisikawan.
Pada Selasa (24/6), TV pemerintah Iran melaporkan tewasnya ilmuwan nuklir Iran lainnya, yakni Mohammad Reza Sedighi Saber. Ia tewas oleh serangan Israel. Sebelumnya, Saber selamat dalam serangan Israel pada 13 Juni, tetapi putranya yang berusia 17 tahun tewas.
Ketika ditanya apakah serangan Israel berhasil menghambat program nuklir Iran, dubes Israel tersebut mengklaim bahwa pembunuhan ilmuwan-ilmuwan akan membuat Iran “hampir” mustahil untuk membangun senjata dari infrastruktur dan material nuklir apa pun yang mungkin masih tersisa.
Ia mengklaim serangan 12 hari oleh Israel dan bom penghancur bunker besar-besaran yang dijatuhkan oleh pesawat siluman Amerika Serikat cukup untuk menghancurkan program nuklir itu.
“Fakta bahwa seluruh kelompok itu menghilang pada dasarnya membuat program nuklir Iran mundur beberapa tahun, cukup lama,” klaim Zarka.
Namun, analis nuklir mengatakan Iran memiliki ilmuwan lain yang dapat menggantikan mereka. Menurut AP, para ahli berpendapat bahwa serangan semacam itu hanya akan menghambat program nuklir Iran dalam beberapa bulan tetapi tidak menghentikannya.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey