Panglima Militer Iran Mohammad Bagheri juga Tewas dalam Serangan Udara Israel ke Teheran
Serangan udara Israel semalam ke Iran tak hanya menewaskan pemimpin Garda Revolusi tapi juga panglima militer.
Media negara Iran melaporkan Kepala Staf Angkatan Bersenjata atau Panglima Militer Iran, Jenderal Mohammad Bagheri, tewas dalam serangan udara Israel semalam yang dinamakan 'Operasi Rising Lion'.
Ini merupakan kematian tokoh penting lainnya dalam serangan Israel terhadap beberapa situs nuklir dan militer di Iran. Sebelumnya, Pemimpin Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, Mayor Jenderal Hossein Salami, juga telah dikonfirmasi tewas.
Setelah kematian Salami, Garda Revolusi Iran bersumpah akan membalas dendam terhadap Israel.
"Serangan ini tidak akan dibiarkan begitu saja dan (Israel) harus menunggu pembalasan yang keras dan menyakitkan," kata Garda Pengawal Revolusi Islam dalam pernyataan yang dibacakan di stasiun televisi negara, seperti dilaporkan AFP dan dilansir Hindustan Times, Jumat (13/6).
Ilmuwan nuklir
Serangan udara Israel hari ini ke sejumlah lokasi di Iran menewaskan Pemimpin Pasukan Garda Revolusi Hossein Salami, komandan Gholamreza Rashid, dan dua ilmuwan nuklir Dr. Mohammad Mehdi Tehranchi dan Dr. Fereydoun Abbasi.
"Fereydoun Abbasi adalah anggota parlemen dan mantan kepala badan energi atom Iran, yang sebelumnya selamat dari upaya pembunuhan pada tahun 2010," kata jurnalis TRT World melaporkan dari Teheran.
Beberapa saat setelah serangan semalam Israel terhadap Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidato video menyatakan Iran menimbulkan ancaman nuklir bagi Israel.
"Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah memproduksi uranium yang diperkaya tinggi yang cukup untuk sembilan bom atom. Dalam beberapa bulan terakhir, Iran telah mengambil langkah-langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya, langkah-langkah untuk mengubah uranium yang diperkaya ini menjadi senjata.
Dan jika tidak dihentikan, Iran bisa memproduksi senjata nuklir dalam waktu yang sangat singkat. Bisa dalam setahun, bisa dalam beberapa bulan... Ini adalah ancaman nyata dan jelas bagi kelangsungan hidup Israel," kata Netanyahu.