Israel Bakal Izinkan Truk Bantuan Masuk ke Gaza Setelah Dua Bulan, Ternyata Taktik untuk Usir Warga Palestina
Mulai dari 2 Maret, Israel memblokir masuknya truk bantuan kemanusiaan ke dalam Gaza dan menciptakan kelaparan di mana-mana.
Kabinet keamanan Israel mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza setelah lebih dari dua bulan blokade total. Langkah ini merupakan bagian dari rencana Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk mengusir paksa lebih dari dua juta warga Palestina ke Gaza Selatan demi perluasan kekuasaan Israel.
Dilansir Axios, bantuan akan masuk melalui beberapa organisasi internasional hingga mekanisme bantuan AS-Israel akan dimulai pada 24 Mei.
Harian Israel Yedioth Ahronoth mengatakan beberapa menteri kabinet yakin bahwa AS mendorong langkah tersebut. Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak diadakannya pemungutan suara atas keputusan ini meski ada tuntutan dari beberapa menteri seperti Itamar Ben Gvir.
Kantor PM Netanyahu mengatakan keputusan tersebut didasari oleh rekomendasi militer Israel untuk ‘memperluas operasi di Gaza’.
Kelaparan sebagai senjata perang
Stasiun televisi Channel 14 Israel mengonfirmasi langkah tersebut berkaitan dengan rencana operasional tentara, bukan karena kemanusiaan.
Sejak awal Maret, Israel memberlakukan pengepungan ketat 2,5 juta orang di Gaza. Mereka memblokir semua bantuan dan barang untuk memasuki wilayah tersebut. Hal ini menyebabkan kelaparan yang meluas hingga menewaskan puluhan orang, terutama anak-anak.
Organisasi internasional menyatakan Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Hal tersebut dianggap sebagai bentuk genosida menurut hukum internasional.
Keputusan bantuan tersebut tampaknya merupakan bagian dari rencana AS-Israel yang lebih luas. Tujuan dari strategi ini adalah untuk mengusir seluruh penduduk Gaza ke wilayah sempit di ujung selatan.
Hanya Menjangkau 25 Persen Penduduk
Berdasarkan rencana ini, bantuan hanya akan menjangkau sekitar 25 persen penduduk Gaza, demikian dilansir Quds News Network, Minggu (18/5).
Dikutip dari The Jerusalem post, seorang pejabat senior Israel mengatakan bahwa sebagian besar titik distribusi bantuan akan berlokasi di Gaza Selatan. Titik-titik bantuan akan dijalankan oleh tentara Israel dan perusahaan-perusahaan swasta AS, bukan kelompok kemanusiaan yang netral.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa ini adalah keputusan sementara yang berlaku selama satu pekan hingga pusat-pusat distribusi beroperasi penuh. Menurut laporan Axios, bantuan akan dikirim melalui Program Pangan Dunia, yakni World Central Kitchen, dan organisasi-organisasi lainnya.
Bantuan sebagai Senjata
Rencana itu merupakan bagian dari serangan Israel yang sedang berlangsung, dikenal sebagai “Operasi Kereta Perang Gideon,” yang mencakup pengiriman bantuan yang dikendalikan penuh oleh militer Israel tanpa pengawasan independen. Pakar-pakar hak asasi manusia memperingatkan bahwa aksi ini merupakan rencana yang mengubah bantuan kemanusiaan menjadi senjata.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengkritik strategi AS-Israel ini. PBB mengatakan bahwa hal seperti ini membahayakan warga sipil dan melanggar prinsip bantuan yang tidak memihak. Alih-alih melindungi orang, koridor bantuan tersebut dapat digunakan untuk membenarkan lebih banyak serangan.
Meskipun bantuan telah diumumkan, situasi di Gaza masih sangat buruk. Sebagian besar orang-orang masih tetap kekurangan makanan, air, dan obat-obatan. Dengan berlanjutnya pengepungan dan serangan yang meningkat, bantuan yang mereka janjikan mungkin tidak banyak membantu mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey