Setelah Dijemur dan Berdiri Berjam-jam, Pasukan Israel dan AS Tembaki Kerumunan Warga Gaza yang Kelaparan Saat Antre Bantuan

Warga Gaza yang kekurangan makanan parah rela menempuh perjalanan panjang menuju Rafah, Gaza selatan, untuk mendapat bantuan makanan.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Setelah Dijemur dan Berdiri Berjam-jam, Pasukan Israel dan AS Tembaki Kerumunan Warga Gaza yang Kelaparan Saat Antre Bantuan
Setelah Dijemur dan Berdiri Berjam-jam, Pasukan Israel dan AS Tembaki Kerumunan Warga Gaza yang Kelaparan Saat Antre Bantuan (Merdeka.com)

Skema kontroversial distribusi bantuan Amerika Serikat (AS)-Israel melalui organisasi “Gaza Humanitarian Fondation” berubah menjadi kekacauan. Operasi distribusi bantuan tersebut dimulai pada Selasa (27/5) kemarin. Tembakan terdengar saat penduduk Gaza yang lapar dan kelelahan tengah bergegas untuk mendapat makanan setelah dipaksa berdiri di luar fasilitas tempat penyaluran bantuan.

Militer Israel membantah menembaki kerumunan, sementara laporan Associated Press mengatakan tank dan tembakan di lokasi distribusi digunakan sebagai tembakan peringatan yang dilepaskan oleh tentara bayaran AS untuk mengamankan fasilitas tersebut.

Awalnya, tidak ada laporan resmi tentang kematian atau cedera. Namun menurut media Arab, tiga orang tewas dan 46 orang terluka saat tentara Israel menembaki kerumunan orang yang tengah mengantre mengambil paket makanan.

“Peristiwa hari ini adalah bukti nyata kegagalan pasukan penjajah dalam mengelola krisis kemanusiaan yang sengaja diciptakannya. Membangun ghetto (wilayah yang dikendalikan) untuk mendistribusikan bantuan terbatas adalah kebijakan yang disengaja dengan tujuan mempertahankan kelaparan untuk menghancurkan masyarakat,” jelas kantor media pemerintah Gaza, dikutip dari Middle East Eye pada Rabu (28/5).

Organisasi pendistribusian bantuan yang didirikan pada Februari lalu itu telah mendapat kritik keras dari pejabat PBB yang mengatakan bahwa rencana distribusi bantuan yang diprakarsai oleh Israel hanya melibatkan perusahaan swasta. Hal ini akan memaksa pengusiran paksa warga Palestina dan timbulnya lebih banyak kekerasan.

Banyak pengguna media sosial yang mengkritik distribusi bantuan dan cara penanganan yang dilakukan organisasi tersebut. Banyak pula pengguna yang membagikan gambar warga Palestina tengah terjebak di balik pagar besi dengan harapan mendapatkan bantuan.

“Pilihan yang dipaksakan Trump dan Israel kepada rakyat Gaza adalah mati kelaparan atau terbunuh saat berusaha mendapatkan makanan. Seperti inilah bencana kelaparan dan malapetaka,” tulis pengguna X dengan username @MerruX. Ia juga mengunggah video kerumunan warga Palestina yang berlarian di tengah gersangnya kota Rafah saat sedang berjuang mendapatkan makanan.

Tentara bayaran AS melarikan diri dari tempat kejadian dan warga Palestina berlarian mendekat ke pos pemeriksaan yang dipagari. Hal ini menyebabkan kekacauan di daerah tersebut.

Sementara itu, kepala organisasi bantuan yang pekan lalu mengatakan siap untuk mulai mengirimkan makanan ke Gaza, mengundurkan diri pada Senin (26/5). Ia mengatakan bahwa ia tidak percaya organisasi ini akan beroperasi secara independen dan mematuhi prinsip-prinsip kemanusiaan yang ketat dan sesuai.

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan bahwa gambar ribuan warga Palestina yang kelaparan di Gaza berlari mencari bantuan saat mereka berhadapan dengan tembakan sangat “menyedihkan”

“Kami dan mitra kami memiliki rencana yang terperinci, berprinsip, dan operasional yang baik serta didukung oleh negara-negara anggota untuk memberikan bantuan kepada penduduk yang putus asa,” kata dia kepada wartawan.

Menurut seorang pengamat politik di Gaza, Muhammad Shehada, isi paket bantuan hampir seluruhnya adalah produk buatan Israel. Ia mengatakan Israel “mendapat keutungan” dari skema bantuan yang mereka ciptakan.

Selama 80 hari terakhir blokade Israel, kematian akibat kelaparan di Gaza telah meningkat menjadi 58 jiwa. Pada kurun waktu yang sama, 242 orang lainnya kehilangan nyawa mereka karena kurangnya makanan dan perawatan medis. Mayoritas dari korban adalah anak-anak dan orang tua.

Sejak 2 Maret, Israel secara efektif menghentikan hampir semua bantuan untuk mencapai Gaza. Hal ini memaksa hampir 2,1 juta jiwa berada di ambang kelaparan, tanpa akses ke obat-obatan penting atau bahan bakar.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi