Israel Tak Peduli Warga Gaza Kelaparan, Blokade Bantuan Kemanusiaan Dijadikan Strategi Perang
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz berdalih strategi itu bertujuan untuk mengamankan pembebasan sandera dan akhirnya mengalahkan Hamas.
Israel tak peduli meski warga Gaza kelaparan dan kehabisan obat-obatan. Hal ini terbukti dari sikap pemerintah zionis yang akan terus melakukan blokade bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam pernyataannya sehari setelah kunjungan lapangan ke Gaza bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, membeberkan strategi perang Israel yang lebih luas di Gaza. Dia berdalih strategi itu bertujuan untuk mengamankan pembebasan sandera dan akhirnya mengalahkan Hamas.
Katz mengatakan Israel telah mengadopsi kebijakan memblokir bantuan kemanusiaan ke Gaza untuk melemahkan kendali Hamas atas penduduk.
"Kebijakan Israel jelas -- tidak ada bantuan kemanusiaan yang akan memasuki Gaza," kata Katz dilansir Xinhua, Rabu (16/4/2025).
"Tidak ada yang saat ini sedang mempersiapkan atau bermaksud membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza dalam situasi saat ini," lanjutnya.
Israel melanjutkan blokade terhadap masuknya makanan, air, obat-obatan, bahan bakar, dan pasokan lainnya pada tanggal 2 Maret. Saat itu, Netanyahu berdalih tindakan tersebut dimaksudkan untuk menekan Hamas agar menerima kesepakatan untuk memperpanjang fase pertama gencatan senjata dan perjanjian pembebasan sandera, tanpa mengharuskan Israel untuk mengakhiri perang.
Katz melanjutkan, bantuan kemanusiaan ke Gaza telah ditahan untuk "melemahkan kendali Hamas atas penduduk dan mempersiapkan landasan bagi distribusi (bantuan) di masa mendatang melalui perusahaan swasta" tanpa keterlibatan Hamas.
"Pasukan Israel menyerang militan dan infrastruktur Hamas tanpa henti," kata Katz, sambil mempersiapkan fase operasi berikutnya.
Dia juga menegaskan, Isral tidak akan menarik tentaranya dari wilayah yang telah direbutnya, dan akan mempertahankan kehadirannya di "zona keamanan" yang ditentukan di seluruh Gaza.
Ia memperingatkan bahwa jika Hamas terus menolak persyaratan Israel untuk kesepakatan penyanderaan, "operasi akan meluas dan berlanjut ke fase berikutnya."
Tindakan keji Israel itu pun dinilai sebagai upaya Israel "memiliterisasi" bantuan kemanusiaan dan menggusur warga Palestina.
"Kami memandang dengan sangat prihatin upaya Israel untuk memiliterisasi bantuan kemanusiaan dan menempatkannya di bawah kendali tantara, di tengah upaya untuk menggusur penduduk Gaza," kata Amjad al-Shawa, direktur Jaringan Organisasi Non-Pemerintah Palestina di Gaza kepada Xinhua.
Menurutnya, blockade tersebut akan memperparah bencana kemanusiaan di Gaza dan membuat sebagian besar penduduk kehilangan pasokan vital.
"Kebijakan tersebut merupakan "pelanggaran standar kemanusiaan internasional," katanya sambil menambahkan bahwa Israel "memikul tanggung jawab penuh atas krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung" di Gaza.
Ia mendesak masyarakat internasional untuk menolak kebijakan tersebut dan menekan Israel untuk memastikan masuknya pasokan penting tanpa hambatan ke Gaza.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, serangan Israel ke Gaza pasca genjatan senjata pertama berakhir dan tak mau diperpanjang oleh negeri zionis itu telah menewaskan sekira 1.652 warga Palestina dan melukai 4.391 lainnya.
Dengan demikian, jumlah korban tewas di Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023 telah meningkat menjadi sekira 51.025, dengan 116.432 orang terluka.