Dendam Kesumat Erin Hingga Tega Beri Hidangan Jamur Racun ke Keluarga Mantan Suami
Apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus pembunuhan yang melibatkan penggunaan jamur paling beracun di dunia?
Kasus kriminal yang menarik perhatian masyarakat Australia kini telah memasuki tahap akhir.
Erin Patterson, yang berusia 50 tahun, dinyatakan bersalah atas pembunuhan tiga orang tamu yang hadir dalam makan siangnya, dengan menggunakan hidangan beef Wellington yang dicampur dengan jamur paling beracun di dunia, yakni death cap.
Pada hari Senin, 8 September 2025, majelis hakim Mahkamah Agung Victoria menjatuhkan tiga hukuman penjara seumur hidup kepada Patterson, dengan ketentuan masa bebas bersyarat minimal 33 tahun.
Vonis ini dibacakan oleh Hakim Christopher Beale dalam sidang yang disiarkan secara langsung dari Melbourne, yang menunjukkan betapa besar perhatian publik terhadap kasus ini, seperti yang dikutip dari laman CNN.
Selain itu, Patterson juga dijatuhi hukuman tambahan 25 tahun penjara atas percobaan pembunuhan terhadap Ian Wilkinson, yang merupakan satu-satunya korban yang selamat.
Istri Wilkinson, Heather, bersama dengan Don dan Gail Patterson, orang tua dari mantan suami Erin, meninggal dunia setelah mengalami gagal organ akibat keracunan jamur.
Hakim Beale menyatakan bahwa tindakan Patterson merupakan pengkhianatan kepercayaan. Jaksa sebelumnya menuntut hukuman seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat, tetapi hakim mempertimbangkan reputasi Patterson serta risiko tinggi yang mungkin dihadapinya jika dipenjara dalam sel isolasi demi keamanan dari narapidana lainnya.
Kronologi kasus
Kasus ini dimulai pada tanggal 31 Juli 2023, ketika Patterson mengundang anggota keluarga mantan suaminya, Simon, untuk makan siang di kediamannya yang terletak di Leongatha, Victoria.
Meskipun Simon tidak hadir karena merasa tidak nyaman, orang tua, bibi, dan pamannya tetap datang.
Dalam persidangan, terungkap bahwa jamur beracun yang digunakan oleh Patterson dipetik dari sekitar rumahnya.
Jaksa menuduh bahwa ia membeli dehidrator untuk mengeringkan jamur tersebut, kemudian membuangnya ke pusat daur ulang ketika para tamunya mulai mengalami sakit.
Keterangan yang diberikan Patterson kepada polisi juga penuh dengan kebohongan; ia mengklaim bahwa jamur tersebut dibeli di supermarket dan toko Asia, bahkan berdalih bahwa ia juga mengalami sakit setelah makan siang serta memberikan sisa makanan kepada anak-anaknya.
Selama proses persidangan yang berlangsung selama sepuluh minggu, jaksa menggambarkan Patterson sebagai sosok yang memiliki "dua wajah": terlihat ramah di depan keluarga mantan suami, namun meluapkan kemarahan dan frustrasi terhadap mereka dalam pesan pribadi di Facebook.
Pembelaan Patterson yang menyatakan bahwa jamur beracun tersebut masuk ke masakannya secara tidak sengaja ditolak oleh juri. Setelah enam hari melakukan musyawarah, 12 anggota juri sepakat untuk menyatakan dirinya bersalah.
Kasus ini menarik perhatian dunia terhadap kota kecil Leongatha dan Morwell, yang kemudian memicu banyak liputan media, podcast, dan dokumenter.
Pendeta Ian Wilkinson, salah satu korban selamat, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada polisi, jaksa, dan masyarakat yang telah mendukung keluarganya.
Dalam pernyataan pra-vonis, ia bahkan menawarkan pengampunan kepada Patterson, mengatakan, "Saya bukan lagi korban Erin Patterson, dan dia telah menjadi korban kebaikan saya."
Patterson masih memiliki waktu hingga 6 Oktober untuk mengajukan banding atas putusan ini.