Arkeolog Temukan Kota Hilang yang Jadi Petunjuk Penyebab Keruntuhan Romawi
Sejarah baru kembali terukir setelah arkeolog menemukan kota Romawi kuno, menggambarkan sejarah keruntuhan Kekaisaran.
Universitas Cambridge menjadi pemimpin penelitian dan menyelesaikan penggalian selama 13 tahun di Interamna Lirenas, situs koloni Romawi di Italia tengah.
Pemukiman ini telah lama tercatat sebagai daerah terpencil yang gagal, namun, bukti baru menunjukan kota ini pernah berkembang pesat, bahkan ketika kekaisaran Romawi runtuh di sekitarnya.
Krisis Abad Ketiga adalah era kemunduran yang berlangsung dari 235 hingga 284 Masehi, dan akhirnya Kekaisaran terpecah menjadi tiga entitas politik terpisah: Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Galia, dan Kekaisaran Palmyra.
Pada tahun-tahun tersebut, kota ini mengalami perang saudara yang meluas, invasi barbar, inflasi dan depresi ekonomi, serta wabah penyakit.
Namun, terlepas dari tantangan ini, Intermna Lirenas berhasil berkembang pesat hingga abad ketiga, 300 tahun lebih lama dari yang diperkirakan para ahli sebelumnya. Pada masa jayanya, kota ini dihuni sekitar 2.000 orang.
Pecahan tembikar kuno ditemukan di lokasi tersebut, memungkinkan tim memetakan tanggal saat tempat ini dihuni.
Mereka berhipotesis bahwa penduduk mengungsi dari kota itu karena takut pada pasukan musuh, tetapi itu tidak terjadi secara tiba-tiba atau secepat yang diyakini sebelumnya.
“Kami memulai dengan lokasi yang sangat tidak menjanjikan, tampaknya tidak seorang pun pernah mencoba menggalinya,” kata Alessandro Launaro, peneliti utama proyek tersebut, seperti dilansir Daily Mail.
“Tidak ada apa pun yang kami permukaan, tidak ada bukti bangunan yang terlihat, hanya pecahan tembikar. Tetapi, apa yang kami temukan bukanlah daerah terpencil. Lebih dari itu, kami menemukan kota yang berkembang pesat dan beradaptasi dengan setiap tantangan yang dihadapi selama 900 tahun.”
Launaro dan rekannya melakukan survei radar magnetik dan penembus tanah (GPR) di lokasi tersebut, serta serangkaian penggalian.
Survei GPR menemukan bukti adanya gudang besar, kuil, dan kompleks pemandian yang melayani pelabuhan di Sungai Liri antara akhir abad pertama SM dan abad keempat Masehi.
Launaro menyatakan, "Pelabuhan sungai tidak hanya membutuhkan gudang,” katanya. “Orang-orang menghabiskan banyak waktu untuk bekerja dan beristirahat, sehingga mereka membutuhkan semua jenis fasilitas seperti yang kami temukan di sini.”
Pelabuhan sungai ini akan sangat penting bagi keberhasilan kota. Memungkinkan Interamna Lirenas berdagang dengan pusat-pusat komersial utama seperti Aquinum dan Casinum di Utara, Minturnae, serta pantai Tyrrhenian di Tenggara.
Penggalian ini menemukan puluhan ribu keping tembikar biasa, serta sisa-sisa teater beratap, lingkungan padat, dan lebih banyak tempat pemandian.
Penelitian sebelumnya terhadap pecahan tembikar ini menunjukan pendudukan kota tersebut mencapai puncaknya di akhir abad kedua hingga awal abad SM, lalu menurun pada abad pertama Masehi.
Sementara itu, tim Launaro mengungkap bukti yang mendukung garis waktu yang berbeda. Setelah meneliti tembikar yang mereka temukan. Para peneliti menyimpulkan bahwa kota tersebut bertahan dari kemunduran hingga akhir abad ketiga Masehi, tiga abad lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey