Arkeolog Temukan Kota Metropolis Kuno Tersembunyi di Tengah Hutan, Pernah Dihuni 50.000 Penduduk
Kota peradaban Maya ini tersembunyi di hutan selama berabad-abad.
Para arkeolog menemukan sebuah kota metropolis kuno dari peradaban Maya di negara bagian Campeche, Meksiko. Kota yang diberi nama Valeriana, berdasarkan laguna terdekatnya, telah tersembunyi di bawah kanopi hutan lebat selama ratusan tahun.
Kota metropolitan ini diyakini sebagai salah satu kota bangsa Maya terpadat yang pernah ditemukan. Pada puncaknya (antara tahun 740 dan 850 M), kota ini mungkin menampung sekitar 30.000 hingga 50.000 orang—lebih banyak dari populasi wilayah tersebut saat ini. Lebih dari 6.000 bangunan telah diidentifikasi, mulai dari rumah hingga piramida yang menjulang tinggi, seperti dikutip dari laman Reason.com, Jumat (2/5).
Penemuan mengejutkan ini terletak hanya 15 menit berjalan kaki dari jalan utama dekat Xpujil, tempat sebagian besar penduduk Maya modern tinggal, menunjukkan bahwa kota yang hilang ini ‘tersembunyi di depan mata’. Penemuan ini dimungkinkan berkat teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) dan analisis data yang cermat.
Awalnya, data LiDAR dikumpulkan pada tahun 2013 oleh The Nature Conservancy of Mexico untuk survei hutan, bukan untuk tujuan arkeologi. Namun, Luke Auld-Thomas, seorang arkeolog dari Northern Arizona University, menganalisis data tersebut dan menemukan keberadaan kota besar ini. Penemuan Valeriana memberikan wawasan baru tentang kompleksitas dan luasnya peradaban Maya, yang sebelumnya belum terungkap.
"Kawasan monumental Valeriana yang lebih besar dari keduanya memiliki semua ciri khas ibu kota politik Maya klasik: alun-alun tertutup yang dihubungkan oleh jalan lintas lebar; piramida kuil; lapangan bola; waduk yang dibentuk dengan membendung arroyo (aliran air musiman)," kata Auld-Thomas dalam temuan yang diterbitkan dalam jurnal Antiquity.
Rute Perdagangan Jarak Jauh
Struktur arsitektur di Valeriana menunjukkan bahwa beberapa bagian kota dibangun sebelum tahun 150 Masehi. Kota ini berkembang pesat selama periode Klasik (250-900 Masehi), mencapai puncak kejayaannya antara tahun 750 dan 850 Masehi.
Penemuan kota ini juga menantang kepercayaan lama bahwa peradaban Maya sebagian besar terdiri dari desa-desa kecil yang terisolasi. Sebaliknya, Lidar telah mengungkap jaringan kota, jalan, dan infrastruktur yang luas dan saling terhubung, yang menunjukkan masyarakat maju dengan rute perdagangan yang luas dan kerja sama ekonomi.
Lidar juga mengungkap bagian-bagian dari jaringan jalan raya layang yang luas—jalan lintas besar yang dibangun berabad-abad sebelum jalan modern. Beberapa membentang hingga selebar 40 meter, menghubungkan kota-kota di jarak yang sangat jauh.
"Itu adalah sistem jalan raya super pertama di dunia yang kita miliki," kata Richard D. Hansen, seorang arkeolog dan sekarang menjadi profesor antropologi di Universitas Utah.
Rute perdagangan jarak jauh ini "dapat dilacak dengan mengikuti kota-kota yang berinteraksi dan bertukar tidak hanya barang tetapi juga ide," kata Christa Schieber de Lavarreda, kepala Taman Arkeologi Nasional Tak'alik Ab'aj di Guatemala.
Salah satu rute tersebut membentang dari Tabasco di Teluk Meksiko, berkelok-kelok melalui Tehuantepec dan Chiapas, terus berlanjut di sepanjang Pantai Pasifik Guatemala, dan mencapai El Salvador.
"Rute-rute ini, yang beroperasi selama berabad-abad, dapat dibandingkan dengan Jalur Sutra pada masa Kekaisaran Romawi," kata Schieber.
Namun, perdagangan bukan hanya tentang memindahkan barang dari satu kota ke kota lain.
"Ada juga jejak 'tak terlihat' dari bahan baku yang digunakan dalam produk yang menggabungkan beberapa komponen—beberapa bersumber dari lokasi yang berbeda dari tempat produksi," jelas Schieber.
"Jejak-jejak ini mengungkap keseluruhan chaîne opératoire (rantai produksi) yang terlibat dalam pembuatan produk akhir."
Salah satu contohnya adalah produksi batu giok di Guatemala. Bukti arkeologis dari Cancuén menunjukkan batu giok mentah diangkut ratusan kilometer untuk diproses menjadi "bentuk awal"—bagian yang sudah dikerjakan sebagian lalu diekspor ke tempat lain untuk disempurnakan. Cancuén bukan sekadar kota, tetapi pusat jaringan perdagangan regional yang lebih luas, tempat bahan-bahan berharga dipindahkan dan diubah sebelum mencapai tujuan akhir.