Topi Romawi Berusia 2.000 Tahun dari Zaman Setelah Cleopatra di Mesir Dipamerkan untuk Publik
Artefak ini sebelumnya tersimpan selama lebih dari satu abad di museum.
Sebuah topi matahari wol berusia 2.000 tahun dari era Cleopatra VII akhirnya dipamerkan setelah dipulihkan dari kondisi mengenaskan.
Artefak langka yang ditemukan di Mesir ini sebelumnya tersimpan dalam keadaan gepeng, rapuh, dan penuh kerusakan akibat ngengat selama lebih dari seabad di gudang museum. Kisah pemugaran benda bersejarah ini diungkap dalam laporan yang dikutip dari Media ZME Science, Selasa (2/12/25).
Topi tersebut diperkirakan dibuat sekitar tahun 30 SM untuk seorang prajurit Romawi yang bertugas di teriknya gurun Mesir, setelah wilayah itu resmi menjadi provinsi Kekaisaran Romawi.
Dimakan ngengat
Hanya dua topi serupa yang diketahui masih bertahan di dunia yaitu di Manchester dan di Florence. Menurut para ahli, topi yang kini berada di Museum Bolton ini merupakan yang paling terawat.
Artefak ini awalnya dibawa ke Inggris oleh arkeolog legendaris Sir William Matthew Flinders Petrie pada 1911. Petrie, yang dikenal sebagai pelopor metode penggalian ilmiah di Mesir, menyumbangkannya ke Museum Chadwick di Bolton. Namun kondisinya yang buruk membuat topi itu disimpan hingga konservator Jacqui Hyman mulai mengerjakannya.
Jacqui Hyman menyebut prosesnya sangat menantang karena banyak bagian felt hilang akibat dimakan ngengat. Dengan teknik penopangan khusus dan penambahan kain serupa yang diwarnai manual, bentuk topi berhasil dipulihkan mendekati tampilan aslinya.
Gambaran kehidupan prajurit romawi
“Benda yang tadinya datar dan rapuh itu tiba-tiba hidup kembali,” ujar Jacqui Hyman.
Restorasi ini didukung pendanaan dari Ritherdon & Co. Ltd. Direktur perusahaan, Ben Ritherdon, menyebut kehormatan bisa terlibat dalam konservasi artefak yang begitu langka.
Museum Bolton menilai topi ini memberi gambaran penting tentang kehidupan prajurit Romawi yang ditempatkan di gurun Mesir dengan keadaan lingkungan ekstrem yang menuntut perlindungan bukan hanya dalam perang, tetapi juga dari panas dan badai pasir.
“Topi ini dibuat untuk dipakai. Andai saja ia bisa bercerita tentang siapa pembuat dan pemakainya,” kata Jacqui Hyman.
Perjalanan ribuan tahun
Sementara itu, Anggota Kabinet Eksekutif Bidang Kebudayaan Dewan Bolton, Nadeem Ayub, menyebut artefak ini sebagai bukti kekuatan museum dalam merawat sejarah dan menginspirasi generasi mendatang.
Setelah menempuh perjalanan ribuan tahun dari padang pasir Mesir hingga lemari penyimpanan museum, topi matahari kuno ini akhirnya kembali mendapatkan panggungnya di hadapan publik. Sebuah kesempatan langka untuk melihat langsung jejak keseharian para prajurit Romawi yang pernah hidup di bawah terik matahari Cleopatra.
Reporter Magang: Ahmad Subayu