2 Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah Turun Tangan
Dua kapal milik Pertamina terperangkap di Selat Hormuz akibat ketegangan yang terjadi di Timur Tengah. Pemerintah turun tangan berupaya mengeluarkan kapal.
Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) terjebak di Selat Hormuz. Akibat ketegangan yang kini tengah terjadi di Timur Tengah.
Tidak tinggal diam. Pemerintah Indonesia turun tangan berupaya melakukan negosiasi agar kapal keluar dari Selat hormuz.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa kedua kapal tersebut kini berada di lokasi yang lebih aman sambil menunggu proses negosiasi.
"Ada dua kargo yang terjebak di Selat Hormuz punya Pertamina. Sekarang kapal itu lagi sandar untuk cari tempat yang lebih aman, sambil kami melakukan negosiasi," ujar Bahlil dikutip dari Antara, Kamis (5/3).
Negosiasi ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Meskipun situasi geopolitik tidak stabil, Bahlil memastikan bahwa kondisi awak kapal tetap dalam keadaan aman.
Dia menegaskan bahwa keberadaan dua kapal tanker tersebut tidak akan memengaruhi ketahanan energi nasional.
"Geopolitik tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, tetapi kesiapan pemerintah dalam mendesain, mempersiapkan semua alternatif untuk crude, BBM, dan LPG, insyaallah aman," kata Bahlil.
Saat ini, pemerintah juga tengah menyiapkan berbagai alternatif pasokan energi, termasuk menjajaki sumber impor baru dari Amerika Serikat.
Selat Hormuz Jalur Vital Energi Global
Upaya untuk membebaskan kapal tanker dilakukan bersamaan dengan langkah-langkah pemerintah dalam mencari alternatif pasokan energi. Hal ini sangat penting karena Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi global yang vital.
Beberapa media Iran bahkan melaporkan bahwa Selat Hormuz telah "secara efektif" ditutup setelah terjadinya serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Meskipun belum ada pengumuman resmi terkait blokade penuh, ketegangan yang terjadi di kawasan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran di pasar energi global.
Selat Hormuz diketahui mengelola sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dunia, termasuk ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Setiap harinya, sekitar 20 juta barel minyak, yang setara dengan 20 persen dari konsumsi minyak global, melewati jalur strategis ini.
Oleh karena itu, gangguan pada jalur ini dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pasokan energi internasional. Dalam konteks ini, keberlangsungan pasokan energi menjadi sangat krusial bagi stabilitas ekonomi global.
Pertamina Jamin Keselamatan Awak Kapal
PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan bahwa kondisi kapal beserta awaknya tetap dalam keadaan aman. Perusahaan melaporkan bahwa terdapat empat kapal Pertamina yang saat ini berada di kawasan Timur Tengah. Kapal Gamsunoro sedang dalam proses pemuatan (loading) di Khor al Zubair, Irak. Sementara itu, kapal Pertamina Pride telah menyelesaikan proses loading dan kini berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi.
Selain itu, kapal PIS Rinjani juga sedang berlabuh di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab. Di sisi lain, kapal PIS Paragon sedang melakukan proses bongkar muatan (discharge) di Oman. Dua kapal yang masih berada di dalam area teluk adalah Pertamina Pride yang dikelola oleh NYK Ship Management dan Gamsunoro yang dikelola oleh Synergy Ship Management. Dengan demikian, perusahaan terus memantau dan menjaga keselamatan armada mereka di wilayah tersebut.
Dipantau Pertamina secara Real-Time
Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau kondisi kapal secara real time. "Kedua kapal kami upayakan bisa segera keluar dari area teluk. Saat ini, tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal," ujar Vega. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjaga keselamatan operasional di tengah situasi yang tidak menentu.
Di samping itu, Pertamina juga aktif berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menjamin keselamatan awak kapal. Peningkatan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut menjadi perhatian utama, sehingga langkah-langkah proaktif diambil untuk memastikan kelancaran operasional.