Kisah Cristiano Ronaldo Mencoba Puasa Ramadan Selama 2 Hari
Cristiano Ronaldo, bintang Al Nassr dan Timnas Portugal, diceritakan pernah menjalani puasa Ramadan selama dua hari pada tahun lalu.
Bintang Al Nassr dan pemain Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo, dikabarkan pernah menjalani puasa Ramadan selama dua hari pada tahun lalu untuk beradaptasi dengan rekan-rekannya di Arab Saudi.
Sejak bergabung dengan Al Nassr pada tahun 2023, Ronaldo telah tampil dalam 129 pertandingan, mencetak 114 gol, dan memberikan 22 assist selama kurang lebih tiga tahun.
Mantan gelandang Al Nassr yang bermain dari 2009 hingga 2018, Shaye Sharahili, mengungkapkan bahwa Ronaldo sempat berpuasa Ramadan pada tahun 2025.
"Ada juga Cristiano yang melakukannya tahun lalu, dia mencoba apa namanya, dia mencoba puasa, tahun lalu dia mencoba puasa bersama tim," ujar Sharahili yang dikutip dari media Arab Saudi, Thmanyah.
"Iya, dia benar-benar mencoba," tambahnya mengenai pengalaman Ronaldo tersebut, yang menunjukkan komitmennya untuk berintegrasi dengan budaya timnya.
Ingin Tahu
Pengalaman yang dialami Cristiano Ronaldo mencerminkan rasa ingin tahunya yang mendalam terhadap makna Ramadan. Dia berusaha memahami secara langsung praktik yang dilakukan oleh mayoritas masyarakat di Arab Saudi.
"Dia mencoba dua hari, hanya untuk merasakan, supaya dia bisa merasakan bagaimana rasanya, karena sebenarnya puasa itu sangat bermanfaat bagi tubuh, sangat bermanfaat bagi tubuh," tuturnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Ronaldo ingin merasakan pengalaman tersebut dengan cara yang lebih mendalam.
Namun, pelaksanaan puasa tidaklah mudah, terutama bagi seorang atlet profesional seperti dia.
"Namun, memang sulit, apalagi kalau kamu harus bermain selama satu setengah jam sebagai pemain sepak bola," jelasnya.
Ini menunjukkan tantangan yang dihadapi Ronaldo ketika mencoba menjalani puasa sambil tetap berkompetisi di lapangan. Meskipun dia menyadari manfaat puasa, kondisi fisik dan tuntutan olahraga membuatnya harus mempertimbangkan dengan matang keputusan tersebut.
Puasa di Arab Saudi berlangsung dengan sangat khidmat
Sharahili mengungkapkan bahwa perubahan waktu pertandingan selama bulan Ramadan memaksa sejumlah pemain untuk menyesuaikan ritme aktivitas harian mereka.
Hal ini dirasakan lebih signifikan oleh pemain non-Arab yang baru pertama kali mengalami dinamika kompetisi di Arab Saudi pada bulan suci ini.
"Mungkin saya pribadi tidak terlalu berbeda, yang lebih banyak terpengaruh justru para pemain asing, kenapa? Maksudnya, misalnya mereka jadi harus terjaga sampai jam 10 malam, lalu bermain pertandingan, mengerti maksud saya?" ujar Sharahili.
"Jadi itu berbeda buat mereka, karena biasanya mereka terbiasa main jam delapan, lalu tiba-tiba jadi terlambat karena pertandingan pukul 11, dan pola tidur mereka berubah."
Dengan demikian, jelas bahwa penyesuaian waktu pertandingan ini memberikan dampak yang cukup besar bagi pemain yang tidak terbiasa dengan perubahan tersebut.
Beradaptasi
Perbedaan budaya dan kebiasaan yang ada memengaruhi kemampuan setiap pemain untuk beradaptasi saat bulan Ramadan. Meskipun demikian, tubuh manusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri setelah beberapa hari menjalani pola hidup yang baru.
"Pemain Arab Saudi juga mengubah pola tidurnya, tetapi yang paling terpengaruh tetaplah pemain asing," ungkap Sharahili.
"Bahkan saya merasakan bahwa pemain Saudi pun mungkin tidak bisa tidur dengan normal seperti biasanya. Memang benar, tetapi pemain asing yang paling terdampak, ya, pemain asing yang paling merasakannya, teman-teman."
"Tentu saja tubuh akan terbiasa, seratus persen tubuh akan beradaptasi dengan apa pun, setelah beberapa hari, lima atau tujuh hari atau sekitar itu, akhirnya tubuh akan terbiasa."
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dalam beradaptasi dengan perubahan pola hidup selama Ramadan, pada akhirnya, tubuh akan menemukan cara untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut.
Sumber: Thmanyah