Kebutuhan Ikan Nila Dorong Inflasi Kerinci Tertinggi di Jambi Saat Ramadan

Kabupaten Kerinci mencatat inflasi tertinggi di Provinsi Jambi, terutama dipicu oleh tingginya kebutuhan ikan nila selama Ramadan. Simak detail penyebab Inflasi Kerinci dan perbandingannya dengan daerah lain.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kebutuhan Ikan Nila Dorong Inflasi Kerinci Tertinggi di Jambi Saat Ramadan
Simak rilis BPS Provinsi Jambi tentang inflasi Kerinci yang melonjak 1,28 persen, di mana ikan nila menjadi komoditas penyumbang utama selama Ramadhan. (AntaraNews)

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi merilis data terbaru mengenai perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayahnya. Data tersebut menunjukkan adanya pergerakan harga yang signifikan di beberapa kabupaten dan kota. Peningkatan kebutuhan komoditas tertentu menjadi faktor utama pendorong inflasi di sejumlah daerah.

Kabupaten Kerinci menjadi sorotan utama setelah mencatat angka inflasi tertinggi di Provinsi Jambi. Kenaikan harga ikan air tawar, khususnya ikan nila, disebut sebagai penyumbang terbesar inflasi ini. Fenomena ini terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat selama bulan suci Ramadan.

Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidhil Adha, menjelaskan bahwa inflasi di Kerinci mencapai 1,28 persen. Sebanyak 0,43 persen dari angka tersebut disumbang oleh tingginya kebutuhan ikan nila. Meskipun demikian, penurunan harga komoditas lain turut menahan laju inflasi di wilayah tersebut.

Kabupaten Kerinci mencatatkan angka inflasi tertinggi di Provinsi Jambi dengan besaran 1,28 persen. Lonjakan inflasi ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan kebutuhan ikan air tawar jenis nila. Permintaan yang melonjak signifikan selama bulan Ramadan menjadi pemicu utama kenaikan harga komoditas ini.

Menurut Aidhil Adha, Kepala BPS Provinsi Jambi, kontribusi ikan nila terhadap inflasi Kerinci sangat substansial. Komoditas ini menyumbang 0,43 persen dari total inflasi yang terjadi. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh komoditas pangan tertentu terhadap stabilitas harga di daerah.

Meskipun terjadi kenaikan harga yang signifikan pada ikan nila, laju inflasi di Kerinci sedikit tertahan oleh komoditas lain. Penurunan harga tomat memberikan andil deflasi sebesar -0,14 persen. Ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang kompleks antara berbagai komoditas.

Selain Kerinci, Kabupaten Muaro Bungo juga mengalami inflasi, meskipun dengan angka yang lebih tipis. Inflasi di Muaro Bungo tercatat sebesar 0,22 persen. Angka ini menunjukkan adanya pergerakan harga yang cenderung stabil namun tetap mengalami kenaikan.

Komoditas jengkol menjadi penyumbang utama inflasi di wilayah Muaro Bungo. Jengkol memberikan andil sebesar 0,10 persen terhadap total inflasi daerah tersebut. Ini menunjukkan bahwa komoditas lokal tertentu dapat memiliki dampak signifikan terhadap Indeks Harga Konsumen.

Namun, laju inflasi di Muaro Bungo berhasil diredam oleh penurunan harga pada komoditas lain. Emas perhiasan memberikan andil sebesar -0,18 persen dalam menahan inflasi. Fluktuasi harga emas perhiasan seringkali menjadi penyeimbang dalam perhitungan inflasi regional.

Berbeda dengan dua kabupaten sebelumnya, Kota Jambi justru mencatatkan deflasi pada periode yang sama. Ibu kota Provinsi Jambi ini mengalami deflasi sebesar 0,22 persen. Deflasi ini menunjukkan adanya penurunan rata-rata harga barang dan jasa di kota tersebut.

Meskipun terdapat kenaikan harga pada komoditas daging ayam ras (broiler), faktor ini tidak cukup untuk mendorong inflasi. Penurunan harga yang signifikan pada cabai merah menjadi penahan utama inflasi di Kota Jambi.

Pihak BPS secara khusus menyebutkan bahwa cabai merah merupakan komoditas penahan inflasi terbesar untuk wilayah Kota Jambi pada periode Maret 2026. Penurunan harga cabai merah pada Maret 2026 berperan krusial dalam menjaga stabilitas harga. Kondisi ini memberikan dampak positif bagi daya beli masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi