Tidak Bisa Menahan Air Mata, Sarwendah Menangis Pegang Foto Mendiang Ayah saat Prosesi Kremasi
Sarwendah merasa sangat canggung dan tidak berani melihat foto ayahnya.
Di balik sikap tegar yang ditunjukkan, Sarwendah tidak dapat menyembunyikan rasa duka saat harus merelakan kepergian ayahnya, Hendrik Lo. Ketika memegang foto mendiang ayahnya, ia merasakan beban emosional yang sangat berat dan tidak bisa menahan air matanya.
Sarwendah mengakui bahwa selama beberapa hari terakhir, ia berusaha menghindari untuk melihat foto tersebut karena kesedihan yang selalu datang saat melihatnya.
"Ya berat lah. Aku juga nggak tahu kalau misalnya suatu hari aku harus megang fotonya. Karena dari kemarin aku sengaja nggak mau lihat fotonya karena dari kemarin tiap melihat (menangis) aku selalu mikir, sedih lah pasti," ungkap Sarwendah di Rumah Duka Grand Heaven, Pluit, Jakarta Utara, Rabu (23/7).
Ia juga menyampaikan harapannya kepada ayahnya, "Jadi ketika tadi cuma ngobrol aja dalam hati sama Papi, ya semoga Papi jalannya lancar, semuanya baik-baik aja, dan cuma bilang sama Papi, 'Tenang aja, kita di sini, Mami pasti dijagain dengan baik'.”
Mengingat Kebiasaan Ayah
Sarwendah menyatakan bahwa perasaan sedih seringkali menghampirinya saat ia berada sendirian di rumah, terutama ketika malam tiba. Ia teringat akan kebiasaan ayahnya yang sering menginap dan selalu memeriksa kamarnya sebelum tidur.
"Kalau di rumah ketika anak aku sudah tidur, diam sendiri tuh masih ada sedih lah. Karena kadang Papi juga nginap di rumah. Kalau dia nginap di rumah, pasti masuk ke kamar aku kayak ngecek, 'Anak aku udah tidur belum ya?' Kalau belum tidur, pasti dia ngobrol sama aku," kenangnya.
Dalam ingatannya, kehadiran sang ayah memberikan kenyamanan tersendiri, meskipun saat itu ia merasa kesepian. Kebiasaan tersebut membuatnya merasa lebih dekat dengan sang ayah, dan momen-momen sederhana itu menjadi sangat berarti. Sarwendah menceritakan betapa pentingnya kehadiran orang-orang terkasih dalam hidupnya, terutama saat ia menghadapi perasaan yang sulit.
"Kalau di rumah ketika anak aku sudah tidur, diam sendiri tuh masih ada sedih lah," ujarnya, menegaskan betapa rasa kesepian dapat datang kapan saja.
Berusaha Untuk Melepaskan
Walaupun demikian, Sarwendah berusaha untuk merelakan dan menerima kenyataan bahwa ayahnya telah pergi untuk selamanya. Ia menyadari bahwa proses melepaskan semua kesedihan yang mengganggu hatinya memerlukan waktu.
"Jadi kayak masih ada rasa sedih, tapi kan harus ikhlas. Nah, perasaan itu yang aku masih harus cerna," imbuhnya.
Dalam perjalanan emosionalnya, Sarwendah mencoba untuk tetap tegar meskipun rasa kehilangan itu masih menyelimuti jiwanya. Ia memahami bahwa mengikhlaskan orang yang dicintai bukanlah hal yang mudah, dan setiap orang memerlukan waktu yang berbeda untuk bisa berdamai dengan perasaan tersebut.
"Jadi kayak masih ada rasa sedih, tapi kan harus ikhlas. Nah, perasaan itu yang aku masih harus cerna," imbuhnya.
Dengan demikian, ia berusaha untuk menemukan cara agar bisa melanjutkan hidup meskipun ada kesedihan yang mengiringi langkahnya.
Contoh Panutan dalam Kehidupan Berumah Tangga
Bagi Sarwendah, orang tuanya merupakan teladan dalam membangun sebuah keluarga. Keharmonisan yang mereka tunjukkan menjadi acuan dan cita-cita dalam hidupnya.
"Ya pasti lah, itu impian aku yang dari dulu, kiblat aku ketika menjalani hubungan rumah tangga dari keharmonisan orang tua. Aku banggalah, semua orang melihat orang tua aku adalah orang tua yang sangat ramah dan harmonis," ucap Sarwendah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4152211/original/055924200_1662697951-Infografis_SQ_Ratu_Inggris_Elizabeth_II_Meninggal_Dunia.jpg)