Tanah Laut Perkuat Produksi Jagung, Targetkan Kembali Jadi Sentra Utama Kalsel
Kabupaten Tanah Laut di Kalimantan Selatan berupaya keras mengembalikan kejayaan sebagai sentra produksi jagung. Melalui penanaman serentak, daerah ini optimistis meningkatkan Produksi Jagung Tanah Laut dan kesejahteraan petani.
Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel), mengambil langkah strategis untuk memperkuat produksi jagung di wilayahnya. Upaya ini dilakukan melalui kegiatan penanaman serentak pada kuartal I tahun 2026. Langkah ini bertujuan untuk mendorong daerah tersebut agar kembali menjadi sentra produksi jagung utama di provinsi Kalsel.
Kegiatan penanaman jagung ini berpusat di Desa Banyu Irang, Kecamatan Bati-Bati, melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, kepolisian, serta kelompok tani. Sinergi ini diharapkan dapat memperluas lahan tanam dan secara signifikan meningkatkan produktivitas pertanian jagung. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari komitmen daerah dalam mendukung program swasembada pangan nasional.
Bupati Tanah Laut, H. Rahmat Trianto, menyatakan bahwa daerahnya memiliki potensi sumber daya yang besar untuk kembali menjadi salah satu sentra produksi jagung di Kalimantan Selatan. Peningkatan pemanfaatan lahan pertanian secara optimal menjadi kunci utama dalam mencapai target ini. Fokus utama adalah pada peningkatan Produksi Jagung Tanah Laut.
Revitalisasi Potensi Sentra Jagung
Rahmat menjelaskan bahwa pada tahun 2020, Tanah Laut pernah mencapai produksi jagung yang mengesankan dengan luas lahan mencapai 27.590 hektare. Namun, dampak pandemi COVID-19 menyebabkan penyusutan drastis hingga sekitar 1.600 hektare, dengan total produksi sekitar 123.000 ton jagung. Penurunan ini menunjukkan kerentanan sektor pertanian terhadap faktor eksternal.
Penurunan luas tanam dalam beberapa tahun terakhir juga dipengaruhi oleh ketidakstabilan harga jual di pasaran. Kondisi ini membuat sebagian petani enggan menanam jagung secara intensif, yang berdampak pada menurunnya volume Produksi Jagung Tanah Laut. Fluktuasi harga sering kali menjadi penghalang utama bagi petani untuk berinvestasi lebih dalam pada komoditas tertentu.
Meskipun demikian, Rahmat optimistis bahwa adanya kepastian harga jual dapat kembali memicu minat petani untuk mengembangkan komoditas jagung dalam skala yang lebih luas. Dengan adanya jaminan harga beli senilai Rp4.000 dari Kapolda, ia yakin bahwa jika 2.000 hektare dari potensi lahan yang ada dapat digarap, dan jika mencapai 10.000 hektare per tahun, produksi bisa mencapai 200.000 ton.
Peran Strategis Kepolisian dalam Swasembada Pangan
Sementara itu, Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, menegaskan bahwa jajaran kepolisian turut aktif mendorong pengembangan budidaya jagung. Keterlibatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan nasional. Peran kepolisian tidak hanya terbatas pada keamanan, tetapi juga merambah ke sektor vital seperti pangan.
Polda Kalsel sendiri mendapatkan target dari Polri untuk menanam sekitar 1.431 hektare jagung. Saat ini, Polda Kalsel telah memiliki 2.052 hektare lahan yang dialokasikan untuk jagung, dengan sekitar 900 hektare di antaranya sudah ditanami. Pencapaian ini menunjukkan komitmen kuat dari institusi kepolisian dalam mendukung ketahanan pangan.
Menurut Yudha, dengan pengelolaan yang optimal, produktivitas jagung di Kalimantan Selatan dapat mencapai sekitar delapan hingga sembilan ton per hektare. Angka ini menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan Produksi Jagung Tanah Laut dan secara bersamaan meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah tersebut. Peningkatan produktivitas ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Sumber: AntaraNews