Tahukah Anda? Warisan Megalit Sulteng Didorong Jadi Destinasi Budaya Dunia, Lebih Tua dari Situs Lain!
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berupaya menjadikan Warisan Megalit Sulteng sebagai destinasi budaya kelas dunia, bahkan terbukti lebih tua dari situs sejenis di negara lain.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) secara aktif mendorong warisan megalitikum yang tersebar di wilayahnya untuk diakui sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia. Upaya ini merupakan bagian dari visi besar untuk menempatkan Sulteng sebagai pusat peradaban yang diakui secara global.
Gubernur Sulteng, Anwar Hafid, menegaskan komitmen ini saat menerima kunjungan tim Kementerian Kebudayaan di Palu pada Jumat, 12 September. Beliau menyambut baik rencana strategis menjadikan warisan megalitikum Sulteng sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2028.
Rencana ambisius ini sejalan dengan program Pemprov Sulteng, yakni Berani Harmoni dan Berani Cerdas, yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi utama pembangunan daerah. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, akademisi, dan masyarakat adat diharapkan menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Upaya Menuju Warisan Dunia UNESCO
Gubernur Anwar Hafid menekankan bahwa menjadikan warisan megalitikum sebagai destinasi budaya dunia adalah pekerjaan besar yang membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. "Ini pekerjaan besar, tapi dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, akademisi, dan masyarakat adat, kita bisa menjadikan Sulteng sebagai pusat peradaban yang diakui dunia," ujar Anwar Hafid.
Sebagai langkah konkret, Dinas Kebudayaan Sulteng didorong untuk segera menyiapkan dokumen perencanaan pengembangan kawasan wisata budaya berbasis kebudayaan untuk periode 2026–2029. Salah satu inisiatif strategis adalah penetapan kawasan khusus seluas 100–200 hektare.
Kawasan ini akan dikelola secara bersama-sama oleh pemerintah daerah dan masyarakat adat, dengan fokus pada pengembangan terpadu. Infrastruktur pendukung akan dibangun untuk memastikan kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pusat pelestarian, tetapi juga sebagai destinasi wisata unggulan di Sulteng.
Penguatan Peran Museum dan Potensi Sejarah Megalitikum
Selain pengembangan kawasan, Museum Sulteng juga akan diperkuat perannya sebagai pusat pengetahuan dan wisata budaya. Saat ini, museum tersebut menyimpan lebih dari 7.500 koleksi yang mencakup berbagai kategori.
- Etnografi
- Arkeologi
- Tradisi prasejarah, seperti pembuatan kulit kayu berusia 4.500 tahun
- Gerabah kubur yang disebut sebagai yang terbesar di Indonesia
Pemprov Sulteng berencana untuk memodernisasi museum dengan teknologi digital, fasilitas videotron, dan tata pamer yang lebih menarik. Hal ini bertujuan untuk mengubah persepsi masyarakat agar museum tidak lagi dianggap menakutkan, melainkan ramah dan menarik bagi wisatawan.
Kepala Dinas Kebudayaan Sulteng, Andi Kamal Lembah, menjelaskan bahwa peninggalan budaya di Sulteng, termasuk situs-situs megalitik yang tersebar di Poso, Morowali, Morowali Utara, Banggai, hingga Kepulauan Togean, merupakan salah satu pusat peradaban tertua di dunia. Berbagai penelitian, mulai dari geologi, arkeologi, hingga DNA, telah menunjukkan keterkaitan jejak budaya di kawasan ini dengan migrasi masyarakat hingga ke Guam dan Kepulauan Mariana.
Andi Kamal Lembah menambahkan, "Peninggalan megalitik Sulteng terbukti lebih tua dibandingkan situs sejenis di negara lain. Ini menjadi bukti bahwa daerah kita adalah salah satu pusat peradaban dunia." Pernyataan ini menegaskan posisi penting Warisan Megalit Sulteng dalam konteks sejarah peradaban global.
Sumber: AntaraNews