Tahukah Anda? KKP Dukung Penuh Hatchery Udang Swasta, Genjot Mutu Benih & Ekspor Udang RI di Pasar Global
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tegaskan dukungan penuh pada pengembangan hatchery udang swasta demi tingkatkan mutu benih, daya saing, dan perkuat ekspor udang Indonesia di pasar global yang bernilai triliunan rupiah.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara tegas menyatakan dukungan penuhnya terhadap pengembangan hatchery udang oleh pihak swasta di Indonesia. Langkah strategis ini diambil untuk meningkatkan mutu benih udang, memperkuat daya saing produk, serta memperbesar pangsa ekspor udang Indonesia di pasar global. Dukungan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan industri perikanan budidaya nasional.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, TB Haeru Rahayu, yang akrab disapa Tebe, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung inisiatif swasta. Salah satu contoh nyata adalah peninjauan langsung terhadap fasilitas pembenihan udang di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Kunjungan ini menunjukkan keseriusan KKP dalam memastikan kualitas benih udang yang dihasilkan.
Menurut Tebe, benih berkualitas tinggi memegang peranan krusial dalam menopang produktivitas udang nasional, baik dari segi hasil panen maupun kemampuan bersaing di kancah internasional. Hatchery udang sendiri merupakan fasilitas khusus untuk penetasan telur udang yang bertujuan menghasilkan benur berkualitas tinggi, sehat, dan konsisten sebagai fondasi utama budidaya udang yang sukses.
Peran Krusial Benih Berkualitas dalam Industri Udang
Peningkatan mutu benih udang menjadi fokus utama KKP karena dampaknya yang signifikan terhadap keseluruhan rantai produksi. Benih yang unggul akan menghasilkan udang dengan pertumbuhan optimal dan ketahanan penyakit yang lebih baik, sehingga meminimalkan risiko kerugian bagi pembudidaya. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan volume dan kualitas hasil panen secara keseluruhan.
Tebe menyoroti bahwa negara-negara pengimpor udang kini semakin ketat dalam menilai mutu dan ketertelusuran produk. Oleh karena itu, ketersediaan benih bermutu tinggi menjadi kunci utama untuk menghasilkan udang berkualitas dan kompetitif di pasar global. Tanpa benih yang baik, sulit bagi Indonesia untuk bersaing dengan produsen udang lainnya.
Saat ini, Indonesia menempati peringkat kelima sebagai produsen udang dunia, di bawah Tiongkok, Vietnam, Ekuador, dan India. Pasar ekspor utama udang Indonesia meliputi Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Tiongkok. Untuk memperkuat posisi ini, inovasi dan peningkatan kualitas di setiap tahapan produksi, termasuk pembenihan, sangat diperlukan.
Dampak Ekonomi dan Sosial Pengembangan Hatchery Swasta
Kehadiran hatchery udang swasta tidak hanya berkontribusi pada peningkatan produksi benih, tetapi juga membawa dampak positif bagi perekonomian lokal dan masyarakat. Salah satu contohnya adalah Post Larva Haji Agus (PLHA) di Lampung Selatan yang telah menyerap lebih dari 60 persen tenaga kerja dari masyarakat setempat. Ini menunjukkan bahwa investasi di sektor ini mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Pemilik PLHA, Agus, mengungkapkan bahwa pembangunan hatchery miliknya didorong oleh tingginya permintaan akan benih udang berkualitas. Menurutnya, fasilitas ini bukan sekadar tempat produksi, melainkan simbol peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja dan penyediaan benur yang andal. PLHA juga berkomitmen terhadap aspek lingkungan dengan mengoperasikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Peningkatan investasi di sektor hatchery, didukung oleh teknologi ramah lingkungan, serta kolaborasi yang solid antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha, dipercaya dapat memperkuat posisi Indonesia di pasar udang global. Pasar udang global sendiri diperkirakan mencapai nilai 64,9 miliar dolar AS pada tahun 2024, setara sekitar Rp1.077,9 triliun, menunjukkan potensi ekonomi yang sangat besar.
Inovasi Benih Udang Unggul dari Swasta
Selain PLHA, terdapat juga hatchery swasta lain di Lampung, seperti milik Uus yang berlokasi di Kalianda, Lampung Selatan. Uus berhasil mengembangkan usahanya berkat penggunaan induk Udang Nusa Dewa, hasil inovasi dari Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIUUK) Karangasem, Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya.
Hatchery yang dikelola Uus memiliki kapasitas produksi hingga 90 juta ekor nauplii Udang Nusa Dewa per bulan. Hasil produksi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga Aceh, tetapi juga menjangkau pasar internasional seperti Singapura. Keunggulan benih Udang Nusa Dewa terletak pada daya tahan tinggi dan pertumbuhan yang cepat, menjadikannya sangat diminati pasar.
Uus menyatakan, "Tingkat keaktifannya mencapai 90 persen. Bahkan ketika dibandingkan dengan benur dari Vietnam dan India, hasilnya tetap lebih unggul karena pertumbuhannya lebih rata dan stabil." Pernyataan ini menggarisbawahi kualitas superior benih udang lokal. Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono juga menekankan pentingnya peningkatan produksi dan kualitas hasil perikanan melalui program ekonomi biru untuk memperkuat daya saing global.
Sumber: AntaraNews