Tahukah Anda? Inflasi Indonesia Terjaga di 2,86 Persen, Ekonom Asing Soroti Kebijakan Ekonomi Solid
Ekonom asing menyoroti keberhasilan Indonesia menjaga inflasi di level 2,86 persen pada Oktober 2025. Kebijakan ekonomi yang konsisten menjadi kunci stabilitas dan menarik perhatian global.
Ekonom asing menyoroti keberhasilan Indonesia dalam menjaga konsistensi kebijakan ekonomi nasional. Hal ini telah menciptakan fondasi perekonomian yang solid, terutama terlihat dari tingkat inflasi yang terjaga pada Oktober 2025.
Chief Economist Juwai IQI Global, Shan Saeed, menyatakan bahwa moderasi inflasi ini mencerminkan ketepatan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) serta efektivitas pengelolaan fiskal yang terukur. Pernyataan ini diterima di Jakarta pada Senin, 3 November 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat inflasi Indonesia pada Oktober 2025 berhasil dijaga pada level 2,86 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan kemampuan pemerintah dalam menahan tekanan harga di tengah gejolak global.
Stabilitas Inflasi dan Kebijakan Moneter
Tingkat inflasi yang berada dalam kisaran 2–3 persen secara tahunan merupakan indikator kuat dari manajemen makroekonomi yang efektif. Angka inflasi 2,86 persen yoy dan 2,10 persen secara tahun kalender (year-to-date/ytd) menunjukkan kestabilan harga yang patut diapresiasi.
Shan Saeed menekankan bahwa tingkat inflasi ini menandakan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga, sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar. Ini terjadi di tengah berbagai tekanan ekonomi global yang seringkali memicu kenaikan harga.
Keberhasilan Indonesia dalam menahan tekanan harga juga didukung oleh stabilnya nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2025. Stabilitas rupiah ini menjadi cerminan nyata dari ketahanan eksternal ekonomi nasional, memberikan fondasi kuat bagi pertumbuhan.
Sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah pusat berperan krusial dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Kolaborasi ini memastikan daya beli masyarakat terlindungi, sambil mendorong pembentukan modal produktif.
Pertumbuhan Ekonomi dan Kepercayaan Investor
Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang kuat, diperkirakan berada di kisaran 5,0 persen hingga 5,8 persen. Proyeksi ini merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu ekonomi berkembang paling tangguh di Asia, menarik perhatian global.
Shan Saeed menyatakan, "Koeksistensi antara inflasi rendah dan pertumbuhan yang kuat menjadi aspek penting dalam manajemen makroekonomi, melindungi daya beli masyarakat sekaligus mendorong pembentukan modal produktif." Ini menunjukkan strategi ekonomi yang terintegrasi.
Kinerja pasar modal dalam negeri juga turut mendukung optimisme terhadap perekonomian Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan 7,5 persen secara tahunan dan 2,9 persen dalam sebulan terakhir, menembus level 8.272 poin.
Meskipun mengalami reli, valuasi pasar masih dinilai sehat dengan rasio Harga dibandingkan Laba per Saham (Price to Earnings atau P/E) di kisaran 13,1. Angka ini sejalan dengan rerata historis 11,7–14,7, menunjukkan pasar yang tidak terlalu panas.
Momentum positif di pasar saham ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap kredibilitas makroekonomi Indonesia. Menurut Shan, "Narasi pasar saham tetap konstruktif, sejalan dengan momentum pertumbuhan ekonomi nasional," mengindikasikan prospek cerah.
Sumber: AntaraNews