Stres Mengajar 400 Siswa, Guru Muda di Wuhan Meninggal Dunia
Tragedi ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan mental dan fisik para pendidik.
Seorang guru muda berusia akhir 20-an, yang dikenal dengan nama keluarga Li, ditemukan meninggal dunia di kantor tempat ia bekerja di Wuhan pada 23 April 2025. Li, yang telah mengabdi selama lima tahun di sebuah perusahaan bimbingan belajar daring besar, mengalami serangan jantung mendadak setelah bekerja lembur semalaman untuk menyelesaikan tugas menjelang liburan panjang.
Perusahaan tempat Li bekerja mengelola platform daring yang menawarkan kursus bahasa Inggris dan matematika untuk siswa sekolah dasar dan menengah, dengan lebih dari 160 juta pengguna.
Menurut laporan, Li baru saja menyelesaikan lembur beberapa hari untuk menuntaskan tugasnya sebelum liburan panjang.
Pada 22 April, ia pergi ke kantor dan bekerja hingga larut malam. Keesokan paginya, seorang petugas kebersihan mendapati Li tidak sadarkan diri di kantor dan kemudian dipastikan meninggal dunia karena serangan jantung mendadak.
Keluarga Li mengungkapkan bahwa ia berasal dari keluarga yang berjuang secara keuangan dan merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, dan ibunya kemudian menikah lagi. Tunangannya mengatakan mereka telah merencanakan menikah pada 2 Mei.
Perusahaan tempat Li bekerja mengeluarkan pernyataan yang menyatakan kesedihan atas meninggalnya Li dan berjanji untuk bekerja sama dengan keluarganya. Pernyataan itu menekankan bahwa tidak ada lembur yang dijadwalkan untuk tim Li, karena hari itu jatuh pada hari libur perusahaan.
Namun, banyak netizen yang mempertanyakan pernyataan tersebut, dengan beberapa berkomentar bahwa perusahaan mungkin mengisyaratkan bahwa Li memilih bekerja lembur dengan sukarela.
Kasus ini memicu perhatian luas di media sosial Tiongkok, dengan topik terkait melampaui 70 juta penayangan.
Seorang pengamat daring berkomentar, “Guru Li seharusnya merayakan pernikahannya, bukan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia sambil bekerja lembur.”
Undang-undang ketenagakerjaan Tiongkok membatasi jam kerja delapan jam sehari, 44 jam seminggu, dengan tidak lebih dari 36 jam lembur sebulan. Namun, laporan tentang budaya kerja berlebihan terus bermunculan, dengan beberapa perusahaan memberlakukan jam kerja yang jauh melebihi batas yang ditetapkan.
Tragedi ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan mental dan fisik para pendidik, serta perlunya penegakan hukum yang lebih ketat terkait jam kerja dan lembur di tempat kerja.