Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun di China menjadi viral setelah dilarikan ke rumah sakit karena mengalami masalah kesehatan yang serius.
Hal ini terjadi setelah ia menghabiskan satu hari penuh untuk menyelesaikan pekerjaan rumah selama liburan musim panas.
Bocah tersebut mengalami sesak napas, mati rasa pada anggota tubuh, dan jari-jarinya menjadi kaku seperti "tangan cakar". Setelah pemeriksaan, ia didiagnosis mengalami gangguan pernapasan.
Pada tanggal 26 Agustus, bocah bernama Liangliang dari Changsha, Provinsi Hunan, bekerja tanpa henti untuk menyelesaikan PR-nya dari pukul 8 pagi hingga 10 malam.
Menurut laporan dari laman SCMP pada Sabtu (13/9/2025), sekitar pukul 11 malam, Liangliang yang berada di bawah tekanan dari orang tuanya menjadi gelisah.
Ia mengalami napas cepat, pusing, sakit kepala, serta mati rasa di tangan dan kakinya.
Dalam keadaan tersebut, orang tuanya segera membawanya ke rumah sakit, di mana dokter mendiagnosis Liangliang mengalami masalah pernapasan akibat hiperventilasi.
Advertisement
Setelah Liangliang dipasangkan masker pernapasan dan dibimbing untuk mengatur ritme napasnya, gejala yang dialaminya mulai berkurang.
Kondisi ini umumnya terjadi pada seseorang yang bernapas dengan cepat dan dalam, sering kali dipicu oleh emosi yang tidak stabil.
Gejala yang muncul dapat meliputi sesak di dada, kesulitan bernapas, pusing, jantung berdebar, serta mati rasa pada tangan, kaki, dan bibir, bahkan bisa menjalar ke seluruh tubuh.
Pada kasus yang lebih parah, pasien mungkin mengalami kekakuan otot di seluruh tubuh atau fenomena yang dikenal sebagai "tangan cakar ayam".
Menurut informasi dari Rumah Sakit Pusat Changsha, selama bulan Agustus lalu, unit gawat darurat anak mereka menangani lebih dari 30 remaja yang mengalami gejala serupa, jumlah ini meningkat hingga sepuluh kali lipat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Meskipun tekanan akademis menjadi faktor utama, kondisi emosional juga diidentifikasi sebagai pemicu signifikan.
Beberapa penyebab yang mungkin termasuk pertengkaran, kecemasan menjelang ujian, ketakutan yang datang tiba-tiba, atau penggunaan ponsel dalam waktu yang lama.
Advertisement
Direktur Departemen Anak di Rumah Sakit Pusat Changsha, Zhang Xiaofo, mengungkapkan bahwa dalam kasus yang parah, kondisi ini dapat berakibat fatal.
Sebagai langkah pertolongan pertama, Zhang merekomendasikan agar pasien diberikan ketenangan dan menggunakan teknik sederhana, yaitu bernapas melalui kantong kertas atau plastik yang menutupi mulut.
Kasus Liangliang menjadi viral dan banyak dibicarakan di media sosial di China.
"Jujur saja, kalau tekanan itu datang lebih awal, mungkin drama buru-buru menyelesaikan PR bisa dihindari. Anak pintar selalu menyelesaikan tugas lebih cepat," ungkap seorang warganet.
Sementara itu, warganet lainnya mengingat masa sekolahnya, "Saya masih ingat masa sekolah dulu. Saya menjejalkan semua PR hanya dalam tiga hari. Sehari saya menulis tujuh esai dan menyelesaikan setengah buku latihan musim panas keesokan harinya. Benar-benar tak terlupakan."
Seorang warganet menambahkan, "Pengalaman anak ini jadi pengingat kuat betapa pentingnya manajemen waktu."