Realisasi KUR NTT 2025 Capai Rp2,77 Triliun, Sektor Perdagangan Dominasi Penyaluran
Kantor Wilayah DJPb Kementerian Keuangan mencatat Realisasi KUR NTT sepanjang 2025 mencapai Rp2,77 triliun, menjangkau puluhan ribu debitur. Simak detail penyaluran dan sektor dominan yang menerima pembiayaan di Nusa Tenggara Timur.
Kupang, NTT – Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang tahun 2025 mencapai angka signifikan, yakni Rp2,77 triliun. Data ini dirilis oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan NTT, yang menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut. Penyaluran KUR ini berhasil menjangkau 65.084 debitur, memberikan akses permodalan yang krusial bagi pelaku usaha.
Kepala Kanwil DJPb Kementerian Keuangan NTT, Adi Setiawan, menjelaskan bahwa penyaluran KUR periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025 ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Fokus pada pembiayaan UMKM diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT. Angka realisasi yang tinggi ini mencerminkan tingginya kebutuhan akan modal usaha serta efektivitas program KUR di daerah.
Selain KUR, Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) juga menunjukkan kinerja positif dengan total penyaluran mencapai Rp355,90 miliar hingga 31 Desember 2025. Pembiayaan UMi ini disalurkan kepada 70.219 debitur, melengkapi dukungan finansial bagi segmen usaha yang lebih kecil. Sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga keuangan menjadi kunci utama dalam memastikan akses permodalan yang merata dan berkelanjutan bagi seluruh pelaku UMKM di NTT.
Distribusi Penyaluran KUR Berdasarkan Lembaga dan Skema
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di NTT pada tahun 2025 didominasi oleh beberapa lembaga perbankan utama. Bank BRI menjadi penyalur terbesar dengan total mencapai Rp2,27 triliun, menunjukkan peran sentralnya dalam mendukung UMKM di provinsi ini. Selanjutnya, Bank BNI menyalurkan sebesar Rp222,62 miliar, diikuti oleh Bank Mandiri dengan Rp176,46 miliar, yang turut berkontribusi signifikan dalam program KUR.
Dalam hal skema penyaluran, skema mikro tercatat sebagai yang terbesar, dengan total mencapai Rp2,05 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar penerima KUR adalah pelaku usaha skala mikro yang membutuhkan modal kerja dan investasi dalam jumlah lebih kecil. Fokus pada skema mikro ini sejalan dengan tujuan KUR untuk memberdayakan usaha-usaha kecil agar dapat berkembang dan naik kelas.
Data ini menunjukkan bahwa program KUR berhasil menjangkau berbagai lapisan pelaku usaha, terutama yang berada di segmen mikro. Keberhasilan ini tidak lepas dari jaringan luas perbankan yang mampu menjangkau hingga pelosok daerah di NTT, memastikan bahwa akses permodalan dapat dinikmati oleh lebih banyak UMKM.
Peta Penyaluran KUR di Berbagai Wilayah NTT
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tersebar di 22 kabupaten/kota di NTT, dengan Kota Kupang mencatat realisasi tertinggi. Ibu kota provinsi ini menerima penyaluran sebesar Rp299,67 miliar, menjangkau 3.786 debitur. Angka ini menunjukkan konsentrasi aktivitas ekonomi dan kebutuhan modal yang tinggi di pusat perkotaan.
Selain Kota Kupang, Kabupaten Sikka juga menunjukkan angka penyaluran yang substansial dengan Rp196,92 miliar, diikuti oleh Kabupaten Flores Timur sebesar Rp187,86 miliar. Daerah-daerah ini merupakan sentra ekonomi regional yang memiliki potensi UMKM besar. Sebaliknya, wilayah dengan realisasi KUR terendah adalah Kabupaten Sabu Raijua dengan total penyaluran Rp5,07 miliar dan Kabupaten Malaka dengan Rp16,16 miliar.
Perbedaan realisasi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tingkat aktivitas ekonomi, jumlah pelaku UMKM, serta aksesibilitas terhadap layanan perbankan di masing-masing wilayah. Data ini penting untuk evaluasi dan perumusan kebijakan agar penyaluran KUR dapat lebih merata di masa mendatang.
Dominasi Sektor Perdagangan dan Potensi Diversifikasi Usaha
Sektor penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di NTT masih didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran, yang mencapai 52 persen dari total penyaluran. Sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan, dan lainnya juga menerima porsi signifikan, yaitu 6,46 persen. Dominasi sektor perdagangan menunjukkan peran pentingnya dalam perekonomian lokal dan kemampuannya menyerap pembiayaan untuk perputaran modal.
Sementara itu, untuk Pembiayaan Ultra Mikro (UMi), penyaluran terbesar dilakukan melalui Permodalan Nasional Madani (PNM) dengan total Rp338,69 miliar kepada 67.397 debitur. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan penyaluran UMi terbesar, mencapai Rp36,62 miliar untuk 6.919 debitur. Sektor perdagangan besar dan eceran juga menjadi penyalur debitur terbanyak untuk UMi, mencapai 85,45 persen, menegaskan kembali pentingnya sektor ini bagi usaha ultra mikro.
Adi Setiawan mendorong adanya sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga keuangan untuk tahun 2026, agar akses permodalan KUR dan UMi semakin merata di seluruh wilayah NTT. Selain itu, diversifikasi sektor usaha oleh para pelaku UMKM juga perlu didorong untuk menciptakan ketahanan ekonomi yang lebih kuat dan mengurangi ketergantungan pada satu sektor saja.
Sumber: AntaraNews