Proyek LNG Midstream Bakal Pangkas Biaya Bahan Bakar Pembangkit
Pengembangan LNG midstream merupakan strategi yang penting untuk menjaga keandalan pasokan energi primer.
PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berkomitmen untuk mengurangi biaya pokok produksi listrik dengan menerapkan efisiensi dalam penyediaan energi primer untuk pembangkit. Salah satu langkah yang diambil adalah mempercepat pengembangan proyek LNG midstream.
General Manager Unit Proyek (UP) GBM PLN EPI, Agus Purnomo mengatakan, PLN EPI kini berperan penting dalam penyediaan feedstock untuk pembangkit PLN, yang mencakup gas, LNG, BBM, batubara, dan bioenergi, termasuk pengembangan biogas.
"Kita melihat bahwa kebutuhan listrik terus naik sesuai RUPTL, dan PLN EPI harus memastikan ketersediaan feedstock untuk mendukung kesiapan pembangkit," ungkap Agus dikutip Rabu (3/12).
Pengembangan LNG midstream merupakan strategi yang penting untuk menjaga keandalan pasokan energi primer sekaligus menekan biaya pokok penyediaan listrik (BPP). Langkah ini sangat diperlukan mengingat permintaan listrik nasional yang terus meningkat, sedangkan pasokan gas pipa ke berbagai sistem kelistrikan semakin menurun.
Agus menambahkan bahwa proyeksi kebutuhan listrik nasional pada tahun 2034 diperkirakan mencapai 511 TWh, dengan dominasi di Pulau Jawa dan pertumbuhan signifikan di Kalimantan serta Sulawesi. Di sisi lain, pasokan gas pipa mengalami penurunan, dan konsumsi BBM untuk pembangkit meningkat antara 10 hingga 15 persen sejak tahun 2023.
"Kenaikan konsumsi BBM ini tentu membebani Biaya Pokok Produksi Listrik. Karena itu konversi BBM ke gas bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan," tegasnya.
Tahun ini, PLN EPI mencatat bahwa kebutuhan LNG mencapai sekitar 90 kargo dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 104 kargo pada tahun depan. Dengan kapasitas pembangkit batu bara yang tidak dapat ditambah, peningkatan kebutuhan energi tersebut akan dipenuhi melalui LNG.
"Kami mengembangkan infrastruktur LNG midstream agar sistem suplai bisa lebih fleksibel dan efisien. Demand dan supply harus terintegrasi," jelas Agus.
Pengembangan Sarana Pasokan
Ia menekankan bahwa integrasi ini memungkinkan adanya pola multi-destination, yang memungkinkan pengalihan suplai LNG secara cepat ketika terjadi gangguan pada pembangkit. Proyek LNG midstream ini dibagi menjadi dua fase. Fase pertama meliputi pembangunan fasilitas suplai di Nias, enam lokasi di Sulawesi dan Maluku, delapan lokasi di Nusa Tenggara, serta empat lokasi di Papua Utara. Saat ini, proyek di Nias sudah memasuki tahap akhir konstruksi dan ditargetkan untuk commissioning pada akhir November atau awal Desember, sebelum mulai beroperasi secara penuh pada Januari 2026.
"Ketika klaster pertama ini beroperasi, kita bisa mengurangi penggunaan BBM hingga 2,3 juta kilometer per tahun dari sisi logistik," ungkapnya.
Setelah penyelesaian fase pertama, pengembangan proyek akan dilanjutkan ke klaster berikutnya. Klaster ini akan mencakup daerah-daerah yang masih bergantung pada BBM, seperti Halmahera Timur, Sanana, Sofifi, Morotai, Bangka Belitung, serta beberapa titik di Kalimantan.
Dengan demikian, diharapkan proyek ini dapat memberikan dampak positif dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan meningkatkan efisiensi dalam distribusi energi di wilayah tersebut.
Peningkatan Pasokan Gas
PLN EPI juga mempercepat pengembangan proyek penguatan pasokan gas di wilayah Jawa-Madura-Bali, mengingat bahwa pasokan gas pipa dari Sumatera dan Jawa Timur diperkirakan semakin terbatas. Beberapa proyek FSRU baru sedang dalam tahap perencanaan, termasuk FSRU Jawa Barat 2 yang berlokasi di Muara Tawar, serta FSRU di Bali, Cilegon, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Tengah, Pomala, serta Stargate.
"FSRU Jawa Timur akan menjadi dukungan tambahan bagi pasokan jaringan transmisi gas, terutama untuk mendukung penambahan pembangkit CCCT di wilayah Jawa-Bali 3," jelas Agus.
Ia menekankan bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam pelaksanaan proyek-proyek tersebut, diperlukan dukungan dari seluruh mitra dan pemangku kepentingan. Agus menambahkan bahwa konversi dari BBM ke gas tidak hanya akan meningkatkan efisiensi dalam pembangkitan dan menurunkan biaya pokok pembangkitan (BPP), tetapi juga mempercepat penggunaan energi yang lebih bersih.
"Kami tidak bisa bergerak sendiri. PLN EPI mengajak semua mitra untuk berkolaborasi agar pasokan energi primer tetap andal, baik di Jawa, Bali, maupun di luar Jawa. Bersama-sama, kita akan mewujudkan ketahanan energi yang efisien, bersih, dan dapat diandalkan," tutupnya.