Polri Ungkap Hasil Investigasi Awal Blackout Sumatra, Pastikan Tidak Ada Sabotase
Berdasarkan hasil investigasi bersama PT PLN (Persero), gangguan diduga dipicu faktor teknis dan cuaca ekstrem.
Bareskrim Polri memastikan gangguan sistem kelistrikan atau blackout yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra pada Jumat (22/5) tidak mengarah pada unsur sabotase maupun kesengajaan. Berdasarkan hasil investigasi bersama PT PLN (Persero), gangguan diduga dipicu faktor teknis dan cuaca ekstrem.
Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifudin mengatakan, tim gabungan bersama PT PLN telah melakukan investigasi lapangan di lokasi tower transmisi di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, pada Minggu (24/5).
Tim gabungan tersebut terdiri dari Direktorat Tindak Pidana Tertentu, Direktorat Tindak Pidana Umum, Puslabfor Bareskrim Polri, serta Ditreskrimsus Polda Jambi.
Gangguan Bermula dari Jalur SUTET 275 kV
Nunung menjelaskan, gangguan awal terjadi pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai di wilayah Jambi.
"Berdasarkan hasil identifikasi awal, pada Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 18.44 WIB terjadi gangguan pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai di wilayah Jambi yang diduga dipicu cuaca buruk," kata Nunung dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (25/5).
"Gangguan tersebut mengakibatkan sistem transmisi keluar dari interkoneksi kelistrikan Sumatra dan memicu ketidakstabilan frekuensi serta tegangan listrik," sambungnya.
Gangguan itu kemudian memicu efek berantai pada sejumlah pembangkit listrik hingga menyebabkan blackout massal di beberapa wilayah Sumatra, meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatra Selatan.
"Hasil identifikasi awal diketahui bahwa gangguan pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai diduga dipicu faktor cuaca buruk yang mengakibatkan sistem transmisi keluar dari interkoneksi kelistrikan Sumatera,” jelasnya.
Kabel Putus, Tapi Tidak Ada Indikasi Sabotase
Dalam pemeriksaan lapangan, tim gabungan menemukan kabel transmisi yang putus di sekitar tower transmisi. Meski demikian, struktur tower secara umum masih dalam kondisi baik dan tidak ditemukan kerusakan signifikan.
Menurut Nunung, penyebab putusnya kabel masih didalami. Dugaan sementara mengarah pada beberapa faktor, mulai dari gesekan mekanis akibat angin, panas karena sambungan longgar yang memicu loncatan listrik, hingga tarikan dan goyangan akibat cuaca ekstrem.
"Sampai dengan saat ini dapat kami pastikan bahwa tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut. Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca ekstrem,” tegasnya.
Ia menambahkan, hasil pemeriksaan awal menunjukkan pola kerusakan kabel berupa serabut terurai dan tidak memperlihatkan pola potongan rapi yang identik dengan tindakan sabotase. Saat ini, potongan kabel yang rusak telah diamankan dan tengah diperiksa secara ilmiah di laboratorium forensik Puslabfor Polri untuk memastikan penyebab pasti kerusakan.
PLN Jelaskan Kronologi Gangguan Listrik
Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra menjelaskan, sistem kelistrikan Sumatra memiliki dua jalur utama transmisi yang menyalurkan daya dari wilayah selatan ke utara, yakni koridor timur 500 kV dan koridor barat 275 kV.
Saat gangguan terjadi, jalur transmisi mengalami trip akibat cuaca buruk berupa hujan lebat dan angin kencang.
"Kondisi tersebut menyebabkan aliran daya berbalik dan memicu fenomena power swing atau osilasi tegangan dan frekuensi yang sangat tinggi," jelas Edwin.
Akibat gangguan tersebut, sistem kelistrikan Sumatra terpecah menjadi dua bagian. Wilayah selatan mengalami kelebihan daya pembangkit, sementara wilayah utara justru kekurangan pasokan daya. Kondisi di wilayah utara kemudian menyebabkan sejumlah pembangkit mengalami trip secara berantai atau domino effect hingga memicu pemadaman di berbagai daerah terdampak.
Sistem Kelistrikan Sumatra Sudah Normal
PLN selanjutnya melakukan pemulihan bertahap melalui mekanisme black start menggunakan pembangkit diesel dan gas. Proses itu kemudian dilanjutkan dengan pengoperasian PLTGU dan PLTU hingga sistem kembali pulih sepenuhnya.
“Seluruh sistem kelistrikan Sumatera telah kembali normal 100 persen dan saat ini beroperasi dengan aman dan stabil,” ujarnya.
PLN memastikan pada Senin (25/5), sejumlah pembangkit besar telah kembali masuk ke sistem sehingga pasokan listrik di seluruh wilayah Sumatra kini dalam kondisi aman dan stabil.