Proses Bongkar Muat Molor 6 Hari, Biaya Logistik Makin Mahal
Buruknya layanan bongkar muat di pelabuhan diduga disebabkan oleh peralatan yang sering mengalami kerusakan, sehingga produktivitasnya menurun drastis.
Keterlambatan dalam waktu sandar dan bongkar muat kapal kembali menjadi fokus perhatian di tengah meningkatnya arus logistik pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Beberapa kapal yang tiba di pelabuhan-pelabuhan tertentu harus menunggu selama 5-6 hari untuk bisa sandar dan melakukan bongkar muat barang.
Buruknya layanan bongkar muat di pelabuhan diduga disebabkan oleh peralatan yang sering mengalami kerusakan, sehingga produktivitasnya menurun drastis.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono mengungkapkan bahwa di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, proses sandar dan bongkar muat kapal menjadi semakin lama.
"Kalau biasanya maksimal 3 hari, sekarang bisa sampai 6 hari, sehingga menyebabkan shortage container (kekurangan kontainer)," katanya.
"Saya melihat beberapa kapal menunggu pembongkaran lebih lama. Ini karena beberapa alat bongkar muat atau crane sudah tua, misalnya di Terminal Peti Kemas (TPK) Nilam, dan TPK Mirah di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya," ujarnya pada Sabtu (31/1).
Dia menambahkan bahwa PT Pelindo seharusnya segera melakukan peremajaan alat bongkar muat di berbagai terminal. Hal ini penting karena beberapa alat sudah berusia tua, yang menyebabkan proses bongkar muat menjadi lebih lambat.
Idealnya, jumlah Container Processing Area (CPA) per jam dapat mencapai 30-40 kontainer, namun saat ini hanya mampu menangani 10 kontainer. Dengan peremajaan alat, diharapkan proses bongkar muat bisa berlangsung lebih cepat.
Proses Bongkar Muat Alami Keterlambatan
Sebastian menegaskan bahwa keterlambatan dalam proses bongkar muat berdampak pada pengiriman barang, yang disebabkan oleh kelangkaan kontainer di beberapa pelabuhan. Perusahaan-perusahaan forwarder yang telah memiliki jadwal pengiriman tetap juga mengalami penundaan dalam proses pengangkutan barang mereka.
"Saya mengirim bahan baku pupuk ke Sampit, sejak Desember sudah sulit mendapatkan kontainer kosong. Pengiriman baru bisa dilakukan Januari 2026, itu pun hanya sebagian," imbuhnya.
Dia menambahkan bahwa biasanya, mereka bisa mendapatkan 20-40 kontainer setiap hari, tetapi saat ini jumlah yang diterima hanya 10 kontainer. Dengan kapasitas 40 kontainer, mereka dapat mengirimkan sekitar 1.000 ton per hari.
Namun, dengan hanya mendapatkan 10 kontainer, pengiriman yang bisa dilakukan kini hanya mencapai 250 ton. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi kelancaran distribusi barang yang mereka lakukan.
TKP Berlian
Ketua DPC Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Surabaya, Steven H Lesawengen, mengungkapkan bahwa terdapat keterlambatan dalam penanganan bongkar muat kapal di TPK Berlian, Tanjung Perak Surabaya. "Keterlambatan penanganan bongkar muat kapal di TPK Berlian Pelabuhan Tanjung Perak karena alat belum siap," ungkapnya.
Hal ini menunjukkan adanya masalah dalam kesiapan alat yang seharusnya mendukung proses bongkar muat. Selain itu, pihak terminal petikemas juga menyatakan bahwa keterlambatan tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya trafik kapal dan kegiatan bongkar muat yang signifikan pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026. Dengan adanya peningkatan trafik, tantangan dalam penanganan bongkar muat menjadi semakin kompleks.
Pihak terminal petikemas perlu melakukan evaluasi untuk memperbaiki sistem dan fasilitas yang ada agar dapat mengatasi masalah keterlambatan ini. Upaya perbaikan sangat penting demi kelancaran operasional pelabuhan dan kepuasan semua pihak yang terlibat.