AHY: Pembangunan Jaringan Kereta Api Solusi Tekan Kendaraan ODOL di Jalan Nasional
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pembangunan jaringan kereta api menjadi solusi penting untuk mengatasi kendaraan ODOL dan menekan biaya logistik nasional.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pembangunan jaringan perkeretaapian merupakan bagian penting dalam upaya mengatasi kendaraan over dimension over loading (ODOL) di jalan nasional. Pernyataan ini disampaikan AHY usai rapat koordinasi pengembangan jaringan kereta api nasional di Stasiun Tanah Abang Baru, Jakarta, pada hari Rabu.
Menurut AHY, pengembangan perkeretaapian tidak hanya bertujuan menekan biaya transportasi logistik, tetapi juga mengurangi kepadatan jalan. Kepadatan ini selama ini didominasi oleh kendaraan berat dengan muatan berlebih.
Kebijakan strategis ini sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu pilar utama pembangunan nasional. Oleh karena itu, percepatan pengembangan jaringan kereta api menjadi mandat penting bagi pemerintah.
Fokus Pembangunan Infrastruktur Kereta Api Nasional
Pemerintah akan mengembangkan jaringan kereta api nasional yang terintegrasi secara menyeluruh untuk melayani mobilitas penumpang dan distribusi logistik di seluruh wilayah Indonesia. Integrasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan jaringan Trans Sumatera, Trans Kalimantan, dan Trans Sulawesi guna memperkuat konektivitas antardaerah. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi barang dan jasa, yang pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan ekonomi regional.
AHY menilai bahwa peran kereta api tidak hanya sebatas mendukung mobilitas masyarakat, tetapi juga berpotensi besar meningkatkan produktivitas daerah. Hal ini dapat tercapai melalui penurunan biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha.
Manfaat Lingkungan dan Tantangan Investasi
Sektor perkeretaapian juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan moda transportasi darat lainnya, dengan kontribusi emisi karbon yang relatif kecil. AHY menyebutkan bahwa sektor transportasi darat menyumbang sekitar 89 persen emisi, sementara kereta api kurang dari satu persen.
Namun, AHY juga menyoroti adanya ketimpangan investasi yang signifikan antara pembangunan jalan dan rel kereta api. Pada tahun 2023, anggaran pembangunan jalan mencapai sekitar Rp86 triliun, sementara alokasi untuk rel kereta api hanya sekitar Rp6 triliun.
Kondisi ini perlu segera diperbaiki mengingat panjang jaringan rel nasional masih sangat terbatas, yakni sekitar 12.000 kilometer, dengan sebagian besar terpusat di Pulau Jawa. Jaringan kereta di Sumatera belum sepenuhnya terhubung, Kalimantan belum memiliki jalur kereta api, dan Sulawesi masih sangat terbatas.
Target dan Pembiayaan Jaringan Kereta Api
Pemerintah menargetkan pengembangan dan reaktivasi jaringan rel hingga sekitar 14.000 kilometer secara bertahap, menuju visi Indonesia 2045. Untuk mencapai target ambisius ini, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai Rp1.100 hingga Rp1.200 triliun.
Pembiayaan pembangunan infrastruktur perkeretaapian tersebut akan mengandalkan kombinasi berbagai sumber. Sumber-sumber ini meliputi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), serta skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Selain itu, investasi swasta dan luar negeri juga akan didorong untuk turut serta dalam pengembangan jaringan kereta api nasional. Strategi pembiayaan yang beragam ini diharapkan dapat mempercepat realisasi target pembangunan perkeretaapian di Indonesia.
Sumber: AntaraNews