Trivia Lingkungan: Tahukah Anda Mangrove Serap Karbon Lebih Banyak? Pelindo Komitmen Pulihkan 100 Hektare Ekosistem Pelindo Mangrove
Pelindo tegaskan komitmen besar dalam program restorasi Pelindo Mangrove, menargetkan pemulihan 100 hektare ekosistem. Apa dampak positifnya bagi lingkungan dan masyarakat pesisir?
PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menegaskan komitmen kuat untuk keberlanjutan lingkungan. Mereka menargetkan pemulihan 100 hektare ekosistem mangrove di berbagai wilayah operasionalnya. Sebagai langkah awal, 1.500 bibit mangrove telah ditanam di kawasan pesisir Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu, 24 Agustus.
Upaya restorasi ini berfokus pada penguatan ketahanan pesisir. Mangrove sangat penting sebagai benteng alami dari abrasi dan intrusi air laut. Ekosistem ini juga merupakan habitat krusial bagi keanekaragaman hayati laut.
Group Head Sekretariat Perusahaan Pelindo, Ali Sodikin, menyatakan program ini adalah bagian dari tanggung jawab Pelindo sebagai BUMN operator pelabuhan. Kegiatan ini diharapkan membawa dampak positif ganda. Manfaatnya meliputi pelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir melalui pemberdayaan.
Peran Vital Mangrove dan Tanggung Jawab Pelindo
Ali Sodikin menekankan bahwa ekosistem mangrove memiliki fungsi ganda yang sangat vital, tidak hanya sebagai penahan abrasi dan intrusi air laut, tetapi juga sebagai habitat esensial bagi biota laut. Keberadaan mangrove turut menopang mata pencarian masyarakat pesisir, menjadikan pelestariannya sebagai prioritas utama.
Sebagai operator pelabuhan yang aktivitasnya sangat bergantung pada laut, Pelindo menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan pesisir. “Pelabuhan tidak bisa dilepaskan dari laut. Karena itu, menjaga lingkungan pesisir, termasuk mangrove, adalah bagian dari tanggung jawab kami agar aktivitas pelabuhan tetap berkelanjutan,” ujar Ali.
Komitmen Pelindo dalam restorasi mangrove ini juga sejalan dengan visi keberlanjutan perusahaan. Program ini dirancang untuk memberikan manfaat jangka panjang, memastikan bahwa operasional pelabuhan dapat berjalan harmonis dengan ekosistem laut yang sehat dan lestari.
Strategi Pelindo dalam Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Kawasan Semarang, termasuk Tambak Lorok, telah lama menghadapi tekanan serius akibat alih fungsi lahan, pencemaran, dan dampak perubahan iklim yang menyebabkan kerusakan mangrove. Rehabilitasi ekosistem mangrove ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi risiko banjir rob dan memperkuat ketahanan wilayah pesisir dari dampak perubahan iklim.
Keberhasilan program restorasi mangrove Pelindo sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan organisasi terkait. Indonesian National Shipowners Association (INSA) menjadi salah satu mitra strategis yang turut berkontribusi dalam upaya ini, menunjukkan kekuatan kolaborasi multi-pihak.
Ali Sodikin menambahkan bahwa kolaborasi dengan komunitas lokal menjadi kunci utama untuk memastikan dampak yang lebih besar dan keberlanjutan program. “Masyarakat lah yang nantinya akan merawat dan menjaga mangrove,” katanya, menyoroti peran sentral warga pesisir dalam pemeliharaan jangka panjang.
Kegiatan penanaman mangrove ini melibatkan entitas subholding Pelindo, termasuk PT Pelindo Multi Terminal Branch Tanjung Emas, PT Pelindo Terminal Petikemas Semarang, serta PT Pelindo Jasa Maritim Unit Tanjung Emas. Selain itu, Pelindo juga menggandeng INSA Semarang yang bertepatan dengan hari ulang tahun asosiasi tersebut, serta melibatkan masyarakat lokal dan relawan lingkungan dalam aksi nyata ini. Selain penanaman, kegiatan bakti sosial juga diselenggarakan untuk warga pesisir.
Dampak Positif dan Prospek Keberlanjutan
Program restorasi mangrove yang digagas Pelindo tidak hanya berorientasi pada aspek ekologis, tetapi juga diharapkan membawa dampak positif pada sisi ekonomi lokal. Dengan membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat, Pelindo berupaya menciptakan sinergi antara pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi warga pesisir.
“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat agar lingkungan dan ekonomi lokal sama-sama terjaga,” tutur Ali Sodikin. Pendekatan holistik ini memastikan bahwa manfaat program dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.
Dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari entitas internal Pelindo, asosiasi seperti INSA, hingga masyarakat lokal dan relawan, program ini menunjukkan model kolaborasi yang efektif. Sinergi ini menjadi fondasi kuat untuk memastikan bahwa upaya pemulihan ekosistem mangrove dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat maksimal bagi lingkungan serta komunitas di sekitarnya.
Sumber: AntaraNews