Posisi Pekerja Bank yang Bakal Terdampak AI
Kecerdasan buatan (AI) akan memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap sektor dalam perbankan.
Kecerdasan buatan, atau yang lebih dikenal dengan istilah AI, diperkirakan akan membawa perubahan besar pada struktur pekerjaan dalam sektor perbankan.
Meskipun demikian, pengaruhnya tidak akan seragam di seluruh bagian bank. Hal ini diungkapkan oleh Sopnendu Mohanty, CEO grup GFTN, yang merupakan perusahaan investasi dan penasihat global.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Business Insider pada Kamis (12/11), Mohanty, yang berusia 53 tahun, merupakan seorang veteran di dunia perbankan dengan pengalaman hampir dua dekade di Citi.
Ia juga pernah menjabat sebagai Chief Fintech Officer pertama di Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan dikenal sebagai salah satu pendiri Singapore FinTech Festival.
Dalam wawancaranya dengan Business Insider, Mohanty menjelaskan bahwa dampak dari disrupsi AI akan bervariasi tergantung pada posisi individu di dalam bank. AI akan memberikan efek yang berbeda pada setiap bagian, mulai dari front office, middle office, hingga back office.
"Bagian depan (front office) berfokus pada pelanggan, bagian tengah (middle office) untuk kepentingan bank, dan bagian belakang (back office) menangani proses administratif," jelas Mohanty.
Ia menambahkan bahwa AI tidak akan mengurangi peran staf di front office, melainkan akan memberikan keuntungan berupa dukungan untuk meningkatkan efektivitas dan memperkuat peran staf dalam memberikan layanan yang lebih cepat, personal, dan berbasis data.
Lebih lanjut, Mohanty memperkirakan bahwa staf di middle office, yang bertanggung jawab atas manajemen risiko, kontrol keuangan, dan kepatuhan, akan merasakan manfaat dari keberadaan AI.
"Middle office sepenuhnya tentang produktivitas internal. Hasil pekerjaan mereka pasti akan lebih baik karena AI akan membuat mereka bekerja lebih cepat dan efisien," ungkapnya.
Dengan demikian, penerapan AI di sektor perbankan diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas layanan yang diberikan kepada nasabah.
Back Office Kena Imbas
Tidak semua sektor dalam industri perbankan mendapatkan keuntungan yang setara. Menurut Mohanty, staf di bagian back office diperkirakan akan paling merasakan dampaknya.
Banyak tugas yang dilakukan di back office bersifat rutin dan berulang, seperti pemrosesan data serta rekonsiliasi transaksi, yang kini dapat dikerjakan secara otomatis oleh sistem berbasis AI.
Oleh karena itu, diperkirakan kebutuhan akan tenaga kerja manusia di bidang ini akan mengalami penurunan yang signifikan.
"Pekerjaan di back office kemungkinan akan berkurang karena banyak proses akan diotomatisasi dengan cara yang jauh lebih efisien. Dampaknya terhadap lapangan kerja akan sangat terasa di area ini," jelas Mohanty.
Kekhawatiran mengenai kemampuan AI untuk menggantikan posisi manusia dalam dunia kerja telah ada sejak lama.
Dalam surat tahunan kepada para pemegang saham, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, menyatakan bahwa AI dapat berpengaruh pada hampir semua jenis pekerjaan di sektor perbankan.
"Teknologi ini bisa mengurangi beberapa kategori pekerjaan, tapi juga menciptakan peran baru," tulis Dimon. Dengan demikian, meskipun ada ancaman terhadap lapangan pekerjaan, ada pula peluang yang bisa muncul seiring dengan perkembangan teknologi ini.
AI Pangkas Jumlah Karyawan
Menurut laporan dari Business Insider, dalam acara Investor Day JPMorgan yang berlangsung pada bulan Mei lalu, para pemimpin bank tersebut mengakui bahwa penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) akan menyebabkan pengurangan jumlah karyawan serta memperlambat proses rekrutmen pegawai baru.
Marianne Lake, CEO divisi perbankan konsumer JPMorgan, memperkirakan bahwa tim operasional bank akan menyusut hingga 10% sebagai dampak dari efisiensi yang ditawarkan oleh AI.
"Kami mendorong agar pertumbuhan jumlah pegawai tetap terkendali dan berfokus pada peningkatan efisiensi," ungkap Jeremy Barnum, Chief Financial Officer JPMorgan.