PLTN Jadi Andalan Energi Masa Depan, Indonesia Targetkan 4,3 GW pada 2040
Pemerintah menargetkan PLTN pertama beroperasi pada tahun 2032 dengan kapasitas awal 250 megawatt.
Anggota Komisi XII DPR RI Gandung Pardiman menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah dalam mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional jangka panjang.
Menurut Gandung, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan keseriusan dalam menjadikan energi nuklir sebagai sumber energi bersih dan berdaya saing tinggi.
"PLTN adalah jawaban atas kebutuhan energi yang bersih, stabil, dan kompetitif. Ini langkah besar yang harus kita dukung bersama," ujarnya.
Pemerintah menargetkan PLTN pertama beroperasi pada tahun 2032 dengan kapasitas awal 250 megawatt (MW). Kapasitas tersebut direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 4,3 gigawatt (GW) pada 2040. Target ini sejalan dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang menempatkan energi nuklir sebagai penyumbang 14,2% dari total bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 73,6% pada 2060.
Gandung menilai PLTN cocok menggantikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara karena berfungsi sebagai pembangkit base load yang stabil dan rendah emisi karbon, serta mendukung target Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE).
Selain sebagai sumber energi, PLTN juga dianggap mampu mendorong industrialisasi dan membuka lapangan kerja baru.
“Ini momentum besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” kata politisi Partai Golkar tersebut.
Meski demikian, ia menyoroti tiga tantangan utama yang harus menjadi perhatian serius pemerintah: dukungan publik, pengelolaan limbah radioaktif, dan kesiapan sumber daya manusia. Berdasarkan survei Kementerian ESDM, sekitar 70% masyarakat mendukung pengembangan PLTN, namun Gandung menilai sosialisasi harus diperluas terutama di wilayah calon tapak.
Ia juga menekankan pentingnya regulasi yang ketat dalam pengelolaan limbah radioaktif serta peningkatan kapasitas tenaga ahli di bidang teknologi nuklir.
Sebagai langkah konkret, Gandung mendorong pemerintah segera membentuk Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) untuk mengawal setiap tahapan pengembangan PLTN di Indonesia.
"Kalau mau maju, kita harus berani masuk ke energi masa depan. Dan nuklir adalah salah satunya," tutup Gandung.