PLN Ajak Perguruan Tinggi Kembangkan Pengembangan PLTN di Indonesia untuk Ketahanan Energi Nasional
PLN menggandeng ITS dan ITPLN dalam upaya Pengembangan PLTN di Indonesia, menargetkan operasional pertama pada 2032 guna memperkuat ketahanan energi nasional dan transisi energi bersih.
PT PLN (Persero) melalui General Manajer Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Ketenagalistrikan, Mochammad Soleh, menginisiasi kolaborasi strategis dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Institut Teknologi PLN (ITPLN). Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pengembangan PLTN di Indonesia, dengan fokus pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di tanah air. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai target operasional PLTN pada tahun 2032, sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Mochammad Soleh menekankan peran krusial ITS sebagai salah satu fondasi penting teknologi di Indonesia, yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan teknologi nuklir. Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk memiliki PLTN pertama pada 2032, sebuah langkah signifikan dalam diversifikasi sumber energi nasional. Pembangunan PLTN ini direncanakan akan berlokasi di wilayah Sumatera dan Kalimantan, masing-masing dengan kapasitas hingga 250 Mega Watt (MW).
Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga pada persiapan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten untuk mengoperasikan dan mendukung operasional PLTN. Diperkirakan, satu pembangkit listrik membutuhkan sekitar 200 tenaga pengoperasian dan pendukung, sehingga dua pembangkit akan memerlukan hingga 500 SDM. Secara keseluruhan, kebutuhan SDM untuk operasional dan pendukung PLTN dapat mencapai seribu orang, mencakup operator dan penyedia jasa pendukung lainnya.
Kolaborasi Strategis PLN dan Perguruan Tinggi
PLN secara aktif mengajak perguruan tinggi terkemuka seperti ITS dan ITPLN untuk terlibat dalam riset dan pengembangan PLTN. Mochammad Soleh menegaskan bahwa kekuatan teknologi yang dimiliki ITS sangat relevan untuk dimanfaatkan dalam proyek nasional ini. Keterlibatan institusi pendidikan tinggi diharapkan mampu menciptakan ekosistem inovasi yang mendukung kemandirian teknologi nuklir.
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS, Agus Muhamad Hatta, menyambut baik ajakan ini. Ia menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk mengikuti jejak negara-negara lain yang telah berhasil mengoperasikan PLTN secara aman. Keberhasilan negara lain menjadi inspirasi dan membuka peluang bagi Indonesia untuk mengadopsi serta mengembangkan teknologi serupa.
Pengembangan teknologi PLTN memerlukan dukungan dari talenta-talenta terbaik dari berbagai disiplin ilmu. ITS, dengan beragam program studi seperti teknik elektro, teknik mesin, teknik fisika, dan Rekayasa Keselamatan Proses (RKP), siap mengakomodasi kebutuhan tersebut. Agus Muhamad Hatta berharap ke depan, inti dari teknik nuklir ini juga perlu dikembangkan. Hal ini termasuk adaptasi riset nuklir yang sudah ada, bahkan penemuan pembangkit nuklir inovatif versi Indonesia.
Potensi dan Manfaat PLTN untuk Ketahanan Energi
Pemerintah menargetkan pembangunan PLTN pertama di Indonesia pada tahun 2032, sebuah langkah strategis yang telah dicanangkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Pembangkit ini direncanakan akan dibangun di wilayah Sumatera dan Kalimantan, masing-masing dengan kapasitas 250 MW. Lokasi ini dipilih untuk mendukung pemerataan pasokan listrik dan pengembangan ekonomi di kedua pulau tersebut.
Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama & Usaha ITPLN, Dr. Ir. M. Ahsin Sidqi, menyoroti keunggulan PLTN dalam transisi energi. Menurutnya, pemanfaatan nuklir dapat menjadi diversifikasi sumber energi yang krusial. Potensi ini dapat memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan kemandirian energi nasional.
PLTN menawarkan solusi energi yang andal, bersih, dan berpotensi murah, terutama karena sumber daya bahan bakarnya tersedia di dalam negeri. Ahsin Sidqi menjelaskan bahwa PLTN dapat menyediakan pasokan listrik baseload yang stabil, menggantikan pembangkit listrik tenaga batu bara. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap energi bersih dan pengurangan emisi karbon.
Sumber: AntaraNews