Pasangan Suami Istri Ini Berhasil Keluar dari Himpitan Ekonomi Berkat Mi Lidi
Kisah sukses pasangan suami istri membangun bisnis mi lidi.
Mi lidi merupakan cemilan di Indonesia yang masih digemari masyarakat hingga saat ini.
Pasangan Suami Istri Ini Berhasil Keluar dari Himpitan Ekonomi Berkat Mi Lidi
Pecinta jajanan yang identik di era 2000, mungkin populer dengan jajanan mi lidi.
Disebut sebagai mi lidi karena camilan yang terbuat dari tepung terigu itu memang mirip dengan bentuk sapu lidi.
Dari camilan mi lidi itulah yang kemudian mengantarkan Bari Ahmad dan Kiaraya dari kondisi ekonomi teramat sulit, hingga menjadi bos dari mi lidi dengan omzet ratusan juta rupiah.
Dalam wawancara yang diunggah akun YouTube HaloBos, Bari dan Kiaraya menceritakan awal mendirikan usaha mi lidi karena tidak ingin terus menerus menjadi karyawan.
Bari dan Kiaraya merupakan sepasang suami istri dengan latar belakang ekonomi dan keluarga yang tidak cukup baik.
Sejak kecil, Bari sudah ditempa kerasnya hidup sebagai orang miskin.
Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dia membantu orang tuanya menjadi pemulung di Bojong Gede. Pendidikannya hampir tidak tuntas karena orang tuanya hampir bercerai.
Bari kemudian diungsikan ke rumah sang nenek di Depok. Dia kemudian melanjutkan pendidikan hingga tamat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Setelah lulus, Bari langsung mencari pekerjaan. Dia kemudian diterima bekerja sebagai karyawan kontrak di sebuah waralaba minimarket yang tersebar di hampir seluruh Indonesia. Di sana, Bari Kemudian bertemu dengan Kiaraya. Keduanya kemudian menjalin hubungan hingga bermuara ke pernikahan.
Selama masih berpacaran dari fokus untuk mencari peluang pendapatan tambahan.
"Pernah coba dropshipper tapi gak panjang karena itu kayaknya musiman. Kemudian buka warung angkringan tapi ramainya cuma 2-3 bulan akhirnya kita stop," kata Bari.
Bari dan Kiaraya terus mencari peluang apa yang bisa dilakukan. Hingga kemudian, Bari terpikir untuk menjual jajanan mie lidi.
Di beberapa kesempatan Bari melihat bahwa jajanan tersebut seperti tidak lekang oleh waktu dan dapat dikonsumsi oleh setiap golongan, baik itu anak kecil atau orang dewasa.
Akhirnya, dengan modal pinjaman sebesar Rp100.000 yang dia dapat dari kasir tempat dia bekerja, Bari membeli bahan baku mie lidi yang kemudian dia kemas untuk dijual kembali.
Meski berjalan cukup lamban, namun Bari melihat tren penjualan mie lidi tersebut cukup baik dan memiliki jangka panjang.Kiaraya kemudian mengusulkan agar mie tersebut diberi sebuah brand. Kebetulan, Bari juga bercita-cita memiliki sebuah brand bisnis. Akhirnya mie lidi tersebut diberi nama Si Umang. Pemilihan nama Si Umang agar mudah diucapkan.
Saat Bari diangkat menjadi karyawan tetap dari pekerjaannya, Bari memutuskan untuk resign. Sebab fia merasa bahwa bisnis yang ia geluti memiliki masa depan yang cukup menjanjikan. Bari dan Kiaraya pun memutuskan komitmen untuk membangun dan serius mengembangkan bisnis mie lidi Si Umang.
Pada tahun 2016, Bari dan Kiaraya mencoba mengendorse Ria Ricis dengan tarif Rp700.000. Sejak endorse tersebut peningkatan penjualan ditaksir 100 kali lipat. Omzet yang diraup keduanya bahkan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
"Tarif segitu cukup mahal bagi kami tapi ternayta balik modalnya juga melampaui modal kita untuk endorse," ucapnya.
Bari dan Kiaraya bahkan berhasil membeli sebuah pabrik kecil untuk memudahkan produksi mie lidi Si Umang.
Sebab, distribusi camilan tersebut sudah berada di kuantitas yang membutuhkan skala produksi yang cukup besar.
Mereka juga jeli dalam mempromosikan mie lidi Si Umang. Mereka mempromosikan mie lidi Si Umang melalui media sosial, termasuk TikTok.
"Dari TikTok saja kita per hari bisa jual 2.000 bungkus. Harga per bungkus Rp15.000," kata Bari.