Aksi Mogok Pedagang Daging Picu Kelangkaan Pasokan Daging, Ribuan Pedagang Bakso Terancam Gulung Tikar di Bekasi

Aksi mogok pedagang daging sapi di Kabupaten Bekasi menyebabkan kelangkaan pasokan daging, mengancam ribuan pedagang bakso kehilangan pendapatan dan potensi kerugian miliaran rupiah.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Aksi Mogok Pedagang Daging Picu Kelangkaan Pasokan Daging, Ribuan Pedagang Bakso Terancam Gulung Tikar di Bekasi
Aksi mogok pedagang daging sapi di Kabupaten Bekasi menyebabkan kelangkaan pasokan daging, mengancam ribuan pedagang bakso kehilangan pendapatan dan potensi kerugian miliaran rupiah. (AntaraNews)

Ribuan pedagang bakso di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kini tengah dihadapkan pada situasi sulit. Mereka terancam tidak dapat berjualan dan bahkan gulung tikar. Ancaman ini muncul sebagai dampak langsung dari kelangkaan pasokan bahan baku daging sapi di pasaran.

Kelangkaan pasokan daging ini dipicu oleh aksi mogok berjualan yang dilakukan oleh para pedagang daging sapi. Aksi mogok tersebut telah berlangsung sejak Kamis (22/1) dan direncanakan hingga Sabtu (24/1) mendatang. Kondisi ini membuat para pedagang bakso kesulitan besar untuk mendapatkan daging segar yang merupakan bahan utama usaha mereka.

Ketua Umum Paguyuban Pedagang Mi dan Bakso (Papmiso), Bambang Haryanto, mengungkapkan bahwa dampak mogok ini sudah sangat terasa sejak hari pertama. Banyak pedagang yang pulang dengan tangan kosong setelah gagal mendapatkan daging di pasar.

Dampak Ekonomi dan Sosial Akibat Mogok Pedagang Daging

Kesulitan mencari daging segar telah memaksa banyak pedagang bakso untuk tidak berjualan. Bambang Haryanto menjelaskan bahwa anggota Papmiso di Kabupaten Bekasi saja mencapai lebih dari 2.000 pedagang. Jika seluruh pedagang ini berhenti beroperasi, potensi kerugian ekonomi dari perputaran bisnis tersebut diperkirakan mencapai Rp2 miliar setiap hari di wilayah tersebut.

Dampak kerugian ini tidak hanya terbatas di tingkat lokal. Secara nasional, dengan total 20 ribu pedagang mi dan bakso, kerugian ekonomi bisa membengkak hingga Rp20 miliar per hari. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius akan dampak sosial dan ekonomi yang lebih parah jika aksi mogok berlanjut penuh selama tiga hari.

Para pedagang bakso kini terjepit antara kehilangan pemasukan atau tetap harus menanggung biaya operasional. Bambang Haryanto menyoroti bahwa beberapa karyawan yang terpaksa dirumahkan tetap harus diberikan makan dan gaji. Hal ini menambah beban finansial bagi para pengusaha kecil di tengah ketidakpastian pasokan bahan baku.

Tuntutan Pedagang dan Harapan Terhadap Respons Pemerintah

Aksi mogok berjualan selama tiga hari ini merupakan keputusan dari pengurus pusat Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI). Ketua APDI Kabupaten Bekasi, Sadimin, menyatakan bahwa mogok ini dilakukan dengan harapan pemerintah dapat menurunkan dan menstabilkan harga daging sapi. Tujuannya agar pemerintah menyadari urgensi permasalahan ini.

Sadimin menjelaskan bahwa harga daging sapi hidup saat ini sangat tinggi, mencapai Rp55 ribu per kilogram. Kondisi ini secara langsung memengaruhi harga jual di tingkat pedagang eceran yang melambung hingga lebih dari Rp150 ribu per kilogram. Padahal, harga normal daging sapi berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Jika harga tetap tinggi, daya beli masyarakat akan berkurang, dan pedagang akan merugi jika menjual di bawah harga keekonomian. Bambang Haryanto turut mengingatkan janji Presiden Prabowo Subianto saat Pilpres 2024 untuk membenahi tata kelola niaga daging sapi. Janji tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga dan memastikan pedagang bakso memperoleh bahan baku dengan harga terjangkau.

Pedagang berharap pemerintah lebih responsif dalam menangani persoalan harga daging sapi yang terus melambung tinggi. Mereka menduga ada permainan klasik yang sering terjadi dalam tata kelola niaga daging sapi yang dikendalikan oleh oknum pedagang besar di Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi