OJK Dorong Pengembangan Wisata Ramah Difabel Melalui Program Desa EKI di Majalengka
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon mengarahkan Program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) di Majalengka untuk mengembangkan wisata ramah difabel, memperkuat akses keuangan, dan memberdayakan ekonomi lokal. Simak dampaknya!
Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon secara aktif mengarahkan Program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) di Desa Gunung Kuning, Majalengka, Jawa Barat. Program ini berfokus pada pengembangan desa wisata ramah difabel sebagai strategi utama. Tujuannya adalah untuk memberdayakan ekonomi masyarakat secara inklusif dan merata.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menyatakan bahwa pengembangan wisata ramah difabel menjadi prioritas. Hal ini karena sesuai dengan potensi desa dan mampu menciptakan manfaat ekonomi yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat. "Program Desa EKI di Majalengka ini tidak hanya memperkuat akses keuangan, melainkan mengembangkan desa wisata ramah difabel sebagai keunggulan lokal," ujarnya.
Program ini merupakan hasil kolaborasi erat antara OJK, Bank Indonesia, Pemerintah Kabupaten Majalengka, serta Pemerintah Desa Gunung Kuning. Selain itu, BUMDes Karya Mekar dan berbagai industri jasa keuangan turut serta. Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan di tingkat desa.
Fokus Pengembangan Wisata Inklusif
Pengembangan wisata inklusif di Desa Gunung Kuning, Majalengka, memerlukan kesiapan masyarakat, kelembagaan desa, dan ekosistem ekonomi yang kokoh. Program Desa EKI menjadi instrumen penting untuk memperkuat fondasi tersebut, memastikan keberlanjutan dan manfaat yang optimal. Inisiatif ini dirancang untuk memastikan bahwa semua pihak, termasuk penyandang disabilitas, dapat menikmati dan berkontribusi dalam sektor pariwisata.
Selain pengembangan pariwisata, Program Desa EKI juga bertujuan untuk memperluas inklusi keuangan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan literasi keuangan dan pemanfaatan produk keuangan formal oleh masyarakat. Literasi keuangan yang baik akan membantu masyarakat membuat keputusan finansial yang lebih bijak.
Agus Muntholib menambahkan, "Tujuannya agar masyarakat makin bijak dalam menggunakan produk keuangan dan tidak lagi bergantung kepada rentenir, bank emok, hingga pinjaman ilegal." Peningkatan inklusi keuangan diharapkan dapat membentuk karakter masyarakat yang lebih mandiri, sehingga pengembangan desa wisata dapat berjalan secara berkelanjutan dan tanpa hambatan.
Tahapan dan Dampak Inklusi Keuangan
Program Desa EKI dilaksanakan dalam tiga tahapan utama, yaitu pra-inkubasi, inkubasi, dan pasca-inkubasi, dengan periode pelaksanaan yang direncanakan hingga tahun 2026. Sejauh ini, tahap pra-inkubasi dan inkubasi telah berhasil dilaksanakan. Fokus utama pada tahapan awal ini adalah pemetaan kebutuhan masyarakat serta pengenalan layanan keuangan yang relevan.
Pada tahap pra-inkubasi, OJK Cirebon melakukan pemetaan kebutuhan akses keuangan terhadap 108 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa 51 persen membutuhkan tabungan, 4 persen deposito, 19 persen kredit usaha, dan 3 persen pembiayaan kendaraan. "Tindak lanjutnya adalah pelaksanaan product matching antara perbankan dan industri keuangan non-bank pada Agustus 2025," jelas Agus.
Proses inkubasi akan terus berlanjut di tahun depan, dengan pendalaman berbagai produk dan layanan keuangan. Tujuannya adalah untuk semakin memperkuat ekosistem inklusi di desa tersebut. Harapannya, masyarakat akan semakin akrab dengan produk keuangan formal dan mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan.
Peran BUMDes dan Peningkatan Ekonomi Lokal
Direktur BUMDes Karya Mekar Gunung Kuning Majalengka, Yosep Hendrawan, menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan Desa EKI. Menurutnya, program ini sangat selaras dengan pertumbuhan ekonomi desa, termasuk sektor pariwisata yang menjadi andalan. BUMDes memiliki peran vital dalam menggerakkan roda ekonomi lokal.
Yosep mengungkapkan bahwa pendapatan bruto BUMDes pada tahun 2024 mencapai Rp2,4 miliar, dan hingga September 2025, angka tersebut telah menembus Rp2,5 miliar. "Target kami Rp3 miliar untuk tahun ini dan untuk pendapatan asli desa (PADes), sekarang sudah hampir Rp566 juta tersetor," ujarnya. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar BUMDes dalam meningkatkan pendapatan desa.
Selain itu, BUMDes Karya Mekar juga mampu menciptakan lapangan kerja dengan menggaji sekitar 70 pekerja muda desa. Mereka menerima honor mingguan sekitar Rp1,5 juta per orang, yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Jumlah kunjungan ke objek wisata unggulan, Situ Cipanten, juga terus meningkat, mencapai 139 ribu orang hingga September 2025, mendekati total kunjungan tahun 2024. "Kami optimistis bisa mencapai 170 ribu bahkan mungkin 200 ribu pengunjung tahun ini, apalagi Situ Cipanten memang menjadi destinasi favorit di Majalengka," pungkas Yosep.
Sumber: AntaraNews