Negara-Negara yang Paling Terpukul Jika Selat Hormuz Ditutup Iran
Iran mengambil langkah tegas dengan bersiap akan menutup Selat Hormuz, jalur paling vital di dunia.
Iran mengambil langkah tegas dengan bersiap akan menutup Selat Hormuz, jalur paling vital di dunia dalam distribusi perdagangan minyak. Parlemen iran sepakat untuk menutup selat tersebut sebagai respons atas tindakan ilegal Amerika Serikat yang menyerang tiga situs nuklir utama Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Minggu, 22 Juni meminta China untuk mendorong Iran agar tidak menutup Selat Hormuz setelah Washington melakukan serangan terhadap situs nuklir Iran.
Pernyataan Rubio dalam acara Sunday Morning Futures bersama Maria Bartiromo di Fox News muncul setelah Press TV Iran melaporkan bahwa Parlemen Iran menyetujui tindakan untuk menutup Selat Hormuz , yang dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas global.
"Saya mendorong pemerintah Cina di Beijing untuk menghubungi mereka mengenai hal itu, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka," kata Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional, dilansir dari The Strait Times.
Kenapa Selat Hormuz Begitu Penting?
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman, namun posisinya sangat strategis. Di sinilah sebagian besar minyak dari Timur Tengah, terutama dari Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, diekspor ke seluruh penjuru dunia.
Menurut data Strauss Center dan International Energy Agency (IEA), setiap hari sekitar 17–20 juta barel minyak mentah melintasi selat ini atau hampir sepertiga pasokan minyak global bergantung pada stabilitas perairan ini.
Wall Street Journal menyebut, jika Selat Hormuz ditutup, dunia bisa kehilangan akses terhadap minyak senilai lebih dari USD1 miliar per hari.
Sebelum Amerika ikut campur dalam perang Iran vs Israel, harga minyak Brent sempat melonjak tajam ke level USD81 per barel, bahkan analis memperkirakan bisa tembus USD100–130 jika penutupan terjadi lebih dari satu pekan
Negara-negara Paling Terpukul
Merujuk laporan Energy Information Administration (EIA), negara-negara yang paling bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk kemungkinan akan menjadi korban pertama. Ini termasuk India, Jepang, Korea Selatan, dan China, empat importir terbesar dari wilayah tersebut. Mereka bukan hanya akan menghadapi lonjakan harga energi, tapi juga kenaikan biaya produksi, inflasi pangan, hingga potensi gangguan stabilitas ekonomi.
"Kami memperkirakan bahwa 83% minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz dikirim ke pasar Asia pada tahun 2023. Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan merupakan tujuan utama minyak mentah yang dikirim melalui Selat Hormuz ke Asia, dengan jumlah sebesar 69% dari seluruh aliran minyak mentah dan kondensat Hormuz pada tahun 2023," demikian penjelasan EIA yang dikutip pada Senin (23/6).
Kedutaan Besar China di Washington tidak segera memberikan komentar.
Pejabat AS mengatakan, serangan itu "menghancurkan" situs nuklir utama Iran dengan menggunakan 14 bom penghancur bunker, lebih dari dua lusin rudal Tomahawk, dan lebih dari 125 pesawat militer. Serangan itu menandai eskalasi konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung.
Teheran telah berjanji untuk membela diri. Pada tanggal 22 Juni, Rubio memperingatkan agar tidak melakukan pembalasan, dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut akan menjadi "kesalahan terburuk yang pernah mereka buat".
Ia menambahkan bahwa AS siap untuk berunding dengan Iran.