Minta Masyarakat Tenang, Pertamina Siapkan Langkah Begini Atasi Kelangkaan BBM di Bengkulu
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan meminta Pelindo mempercepat dimulainya pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu
Kelangkaan BBM (Bahan Bakar Minyak) terjadi di Kota Bengkulu. Kondisi ini disebabkan karena adanya pendangkalan alur Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu. Dengan tertutupnya pintu alur akibat pasir yang terbawa masuk dari samudera membuat kapal tidak bisa keluar masuk ke dermaga pelabuhan, tidak terkecuali kapal pengangkut BBM milik Pertamina.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Tjahyo Nikho Indrawan menjelaskan, Pertamina terus memperkuat langkah percepatan distribusi melalui penambahan armada mobil tangki, percepatan penyaluran dari berbagai titik suplai, serta koordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk suplai ke FT Lubuk Linggau dan pemerintah daerah setempat, terus dilakukan agar distribusi energi di wilayah Bengkulu tetap berjalan dengan aman dan berkesinambungan.
"Kami terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Pasokan akan terus dimaksimalkan sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah Bengkulu dan sekitarnya," jelasnya dikutip di Jakarta, Selasa (27/5).
Selain itu, lanjut Nikho, Petamina Patra Niaga Regional Sumbagsel juga menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya antrean dan keterbatasan pasokan BBM yang sempat terjadi di sejumlah SPBU di wilayah Bengkulu dalam beberapa hari terakhir.
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang sempat terjadi. Situasi ini merupakan dampak dari kondisi di luar kendali kami, namun Pertamina berkomitmen penuh untuk menjaga ketersediaan energi. Kami pastikan pasokan BBM untuk masyarakat Bengkulu terus diupayakan agar kembali normal secara bertahap," ujar Nikho.
Dikutip dari Antara, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan meminta Pelindo mempercepat dimulainya pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu agar situasi daerah dapat kembali normal dengan aktifnya kembali pelabuhan.
"Kita ingin bagaimana kemudian pembicaraan kita ini (tentang pengerukan alur) itu bisa dipegang, karena beberapa lama kita bicara, rapat, itu ternyata (dinilai) hoaks, ternyata tidak bisa dipegang. Akhirnya yang jadi bulan-bulanan adalah pemerintah, yang dicaci-maki orang adalah gubernur," kata Gubernur Bengkulu Helmi Hasan.
Padahal, urusan pelabuhan, termasuk urusan pengerukan alur pelabuhan menjadi urusan Pelindo dan KSOP, sementara pemerintah daerah posisinya adalah pendukung. Pemerintah daerah tidak bisa ikut campur atau menjadi pihak yang langsung melakukan tindakan ketika ada permasalahan yang terjadi di pelabuhan.
"Tolong kita buka sedikit hati kita yang paling dalam tentang kondisi masyarakat yang sangat susah hari ini, BBM sangat langka (akibat kapal pengangkut BBM Pertamina tidak bisa masuk ke pelabuhan). Bapak-bapak mungkin bisa tidur enak, tapi saya tidak bisa karena SPBU banyak yang tidak beraktivitas (tidak ada pasokan BBM)," kata dia.
Pelindo II Harus Bergerak Cepat
Analis Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah juga meminta Pelindo II untuk mempercepat pengerukan Pelabuhan Pulau Baai. Karena berlarut-larutnya pengerjaan, sangat berdampak terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk terganggunya distribusi BBM Pertamina kepada masyarakat.
"Besar sekali dampaknya, termasuk distribusi BBM. Makanya, Pelindo II harus gerak cepat terhadap pengerukan. Ini adalah bagian dari tanggung jawab," tegas Trubus.
Menurut Trubus, percepatan pekerjaan pengerukan, hanya satu bagian dari tanggung jawab BUMN tersebut. Tak kalah penting, kata dia, Pelindo II juga harus bertanggung jawab kepada masyarakat. Karena ada kerugian publik di sana, termasuk bertambahnya cost masyarakat.
”Ekspor terdampak, roda perekonomian masyarakat juga sangat terdampak. Jadi, efek dominonya besar sekali, termasuk kepada publik,” lanjutnya.
Selain itu, imbuh Trubus, tentu saja harus ada perbaikan tata kelola, dimana di dalamnya ada transparansi.
Kata Pelindo
PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) siap melaksanakan penugasan normalisasi alur Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu, dengan mendatangkan dua kapal keruk besar.
"Dua kapal keruk besar saat ini berada di area labuh Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu dan akan segera melaksanakan pengerukan di Alur
Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, sebagaimana penugasan yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan kepada Pelindo," kata General Manager Pelindo Regional 2 Bengkulu S Joko, di Bengkulu, Selasa (27/5).
Dua kapal keruk besar telah didatangkan Pelindo dan kini berada di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu untuk melaksanakan penugasan dari Kementerian Perhubungan dalam mengatasi pendangkalan alur di sana. Kedua kapal tersebut, yaitu CSD Costa Fortuna 3 dan AHT Costa Fortuna 5.
Kedatangan kapal keruk itu merupakan bagian dari upaya normalisasi alur pelayaran yang mengalami pendangkalan, akan difokuskan pada pendalaman dan pelebaran alur pelayaran guna memastikan kapal-kapal dapat bersandar dengan lancar dan aman.
Joko mengatakan, pihaknya senantiasa berkoordinasi dengan Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu serta instansi lain termasuk pemerintah daerah di Bengkulu.
Hal tersebut, kata dia lagi, untuk memastikan seluruh proses pengerukan berjalan dengan cepat, sesuai dengan ketentuan teknis, dan memperhatikan aspek lingkungan.