Pengusaha Truk Keluhkan Akses BBM Subsidi di Tengah Kenaikan Harga Solar Nonsubsidi, Barcode Diblokir
Mayoritas angkutan logistik darat masih mengandalkan bio solar (BBM subsidi).
Sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Jawa Tengah–DIY mengeluhkan pemblokiran barcode pembelian solar subsidi oleh PT Pertamina. Kebijakan ini dinilai merugikan pelaku usaha angkutan barang, terutama di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi.
Sekretaris DPD Aptrindo Jateng–DIY, Dedi Untoro, mengatakan mayoritas angkutan logistik darat masih mengandalkan bio solar (BBM subsidi). Karena itu, kenaikan harga solar nonsubsidi seperti Pertamina Dex dan Dexlite tidak terlalu berdampak bagi mereka.
“Bagi kami, kenaikan solar nonsubsidi tidak berpengaruh karena kami tidak menggunakannya. Yang menjadi masalah, banyak barcode subsidi justru dihapus sehingga kami tidak bisa membeli solar lagi,” ujar Dedi, Minggu (26/4).
200 Barcode Diblokir
Ia menyebut, sejak kenaikan harga BBM nonsubsidi pada April 2026, muncul kebijakan penyesuaian data penerima BBM subsidi yang berujung pada pemblokiran barcode. Setidaknya terdapat lebih dari 200 barcode milik angkutan barang yang telah diblokir.
“Hal ini jelas merugikan pemilik truk. Di lapangan, belum ada solusi yang diberikan,” katanya.Dampak dari kebijakan tersebut cukup signifikan terhadap operasional. Banyak armada truk tidak dapat beroperasi karena kesulitan mendapatkan bio solar. Bahkan, ada pelaku usaha yang terpaksa menghentikan sebagian besar armadanya.
“Dari puluhan truk yang dimiliki, kini hanya beberapa yang bisa beroperasi,” ungkapnya.Aptrindo menilai pemerintah perlu memperhatikan kondisi pelaku usaha angkutan barang yang memiliki peran vital dalam distribusi logistik. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Kalau ini berlarut-larut, distribusi terganggu dan harga barang bisa naik. Banyak sopir juga bergantung pada pekerjaan ini untuk menghidupi keluarganya,” jelas Dedi.
Sosialisasi
Pihaknya juga meminta agar sosialisasi terkait aturan barcode dilakukan secara jelas dan menyeluruh agar tidak menimbulkan kebingungan. Selain itu, penyaluran BBM subsidi perlu diatur lebih tepat sasaran.
“Kalau ada kenaikan BBM subsidi kami tidak masalah. Yang penting ketersediaannya ada,” tegasnya.
Sebagai informasi, harga BBM nonsubsidi jenis Pertamina Dex dan Dexlite mengalami kenaikan signifikan, hingga sekitar 70 persen dari harga normal. Per April 2026, harga Pertamina Dex berada di kisaran Rp23.900–Rp24.250 per liter, sementara Dexlite sekitar Rp23.600 per liter.